Blog

Landasan Falsafah dan Teori Teknologi Pendidikan

8e5cb5a25d0e9917fccfdb3c5a253413Yang dimaksudkan dengan istilah “Falsafah” disini adalah rangkain pernyataan yang didasarkan pada keyakinan, konsepsi, dan sikap seseorang, yang menunjukan arah atau tujuan yang diambil. Rumusan ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Ely (1980, H.81), dimana seseorang memberikan arti atas suatu gejala seobjektif mungkin. Usaha memberikan arti dalam tulisan ini didasarkan oleh pengalaman emperik atau sejumlah data yang diamati, jadi merupakan generalisasi dari berbagai gagasan yang berkaitan dengan rujukan tertentu. Pendekatan ini sengaja diambil dengan maksud untuk memperoleh pembenaran atau pengakuan akan gejala yang diamati, dan bukannya mengembangkan itu sendiri.
Sejumlah asumsi yang dijadikan dasar untuk menentukan gejala yang diamati dan/atau teori yang dirumuskan. Asumsi-asumsi itu diantara lain:
1. Ilmu dan pengetahuan berkembang dengan pesat dengan implikasi bagi kebanyakan orang untuk mengikuti perkembangan itu.
2. Pertambahan penduduk akan senantiasa terjadi meskipun dengan derajat perbandingan yang kian mengecil. Perkembanbangan penduduk ini membawa implikasi makin banyakya mereka yang perlu memperoleh pendidikan
3. Terjadinya perubahan-perubahan mendasar dan bersifat menetap dibidang sosial, politik, ekonomi, industri, atau secara luas kebudayaan, yang menghendaki reduksi atau pendidikan terus menerus bagi semu orang.
4. Penyebaran teknologi kedalam kehidupan masyarakat yang makin meluas masyarakat mengandung budaya teknologi, yang memengaruhi segenap bidang kehidupan, termasuk didalamnya bidang pendidikan.
5. Makin terbatasnya sumber -sumber tradisonal sehingga harus diciptakan sumber-sumber baru dan sementara itu memamfaatkan sumber yang makin terbatas itu secara lebih berbudaya guna dan berhasil guna. Termasuk dalam sumber tradisonal ini yaitu sumber insani untuk keperluan pendidikan.

PENDEKATAN FILSAFATI

Iklan

Menyamai Benih Teknologi Pendidikan

8e5cb5a25d0e9917fccfdb3c5a253413PONTENSI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Teknologi Pendidikan dapat didefinisikan dengan berbagai macam formulasi. tidak ada satupun formulasi yang paling benar, karena berbagai formulasi dibawah ini saling mengisi.
1. Teknologi pendidikan merupakan suatu proses yang komleks dan terintegrasi, meliputi manusia, alat dan sistem, termasuk diantaranya gagasan, prosudur, dan organisasi.
2. Teknologi pendidikan memakai pendekatan yang sistimatis dalam rangka menganalisis dan memecahkan persoalan proses belajar.
3. Teknologi pendidikan merupakan suatu biadang yang berkepentingan dengan pengembangan secara sistimatis berbagai macam sumber belajar, termasuk didalamnya pengelolaan dan penggunaan sumber tersebut.
4. Teknologi pendidikan merupakan suatu bidang profesi yang terbentuk dengan adanya usaha terorganisasikan dalam mengembangkan teori, melaksanakan penelitian, aplikasi praktis perluasan , serta peningkatan sumber belaja.
5. Teknologi pendidikan beroperasi dalam seluruh bidang pendidikan secara integratif, yaitu secara rasioanl berkembang dan berintegrasi dalam berbagai kegiatan pendidikan.

Pada umumnya, teknologi pendidikan dianggap mempunyai potensi untuk:
1. Meningkatkan produktivitas pendidikan, dengan jalan :
a. mempercepat tahap bealajar (rute of learning).
b. membantu guru untuk menggunakan waktunya secara baik.
c. mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga guru dapat lebih banyak membina dan mengembangkan kegairahan belajar anak.
2. Memberikan kemungkinan pendidikan yang sifatnya lebih individual, dengan jalan :
a. mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisonal.
b. memberikan kesempatan anak berkembang sesuai kemampuanya.
3. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pengajaran, dengan jalan:
a. perencanaan program pengajaran yang lebih sistematis.
b. pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi penelitian tentang prilaku.
4. Lebih memantapkan pengajaran, dengan jalan:
a. meningkatkan kapabilitas manusia dengan berbagai media komunikasi.
b. penyajian informasi dan data secara kongkrit.
5. Memungkinkan belajar secara seketika (immediacy of learning), karena dapat:
a. mengurangi jurang pemisah antara pelajaran di dalam dan di luar sekolah.
b. memberikan pengetahuan langsung.
6. Memungkinkan penyajian pendidikan lebih luas, terutama adanya media massa dengan jalan :
a. pemamfaatan bersama (secara lebih luas) tenaga atau kejadian yang langka.
b. penyajian informasi menembus batas geografis. (Ely, 1979)

PERKEMBANGAN KONSEP TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Pengertian teknologi pendidikan tidak terlepas dari pengertian teknologi secara umum. Pengertian teknologi yang utama adalah proses yang meningkatkan nilai tambah. Proses tersebut menggunakan dan/atau menghasilkan suatu produk tertentu Produk yang digunakan dan/atau dihasilkan tidak terpisah dari produk lain yang telah ada, dan karena itu menjadi bagian integral dari suatu sistem. Jadi, dalam pengertian umum tentang teknologi, alat atau sarana baru yang khusus diperlukan tidak menjadi syarat mutlak harus ada, karena alat atau sarana itu telah ada sebelumnya.
Dalam bidang pendidikan atau pembelajaran, teknologi juga harus memenuhi ketiga syarat tersebut: proses, produk, dan sistem. Kecuali memenuhi syarat umum teknologi, teknologi pendidikan juga harus membuktikan dirinya sebagai suatu bidang kajian atau disiplin keilmuan yang berdiri sendiri. Perkembangan sebagai disiplin ilmu tersebut dilandasi oleh serangkaian dalil atau dasar yang dijadikan patokan pembenaran.Secara falsafi, dasar keilmuan itu meliputi ontologi atau rumusan tentang gejala pengamatan yang dibatasi pada suatu kelompok telaah khusus yang tidak tergarap oleh bidang telaah lain; epistemologi, yaitu usaha atau perinsip intelektual untuk memperoleh kebenaran dalam pokok telaah yang ditentukan; dan aksiologi atau nilai-nilai yang menentukan kegunaan dari pokok telaah yang ditentukan, yang mempersoalkan nilai moral (etika) dan nilai seni serta keindahan atau estetika. (Miarso, 1987)
Objek formal teknologi pendidikan adalah “BELAJAR” pada manusia, baik sebagai pribadi maupun yang tergabung dalam organisasi. Belajar itu tidak hanya berlangsung dalam lingkup persekolahan ataupun pelatihan. Belajar itu dimana saja dan oleh siapa saja, dengan cara dan sumber apa saja yang sesuai dengan kondisi dan keperluan.

Adapun gejala perlu mendapat perhatian, atau yang merupakan landasan ontologi dari objek tersebut, antara lain:
1. Adanya sejumlah besar orang yang belum terpenuhi kesempatan belajarnya, baik yang diperoleh melalui suatu lembaga khusus, maupun yang dapat diperoleh secara mandiri.
2. Adanya berbagai sumber baik telah tersedia maupun yang dapat direkayasa, tetapi belum dapat dimamaatkan untuk keperluan belajar.
3. Perlu adanya proses atau usaha khusus yang terarah dan terencana untuk menggarap sumber-sumber tersebut agar dapat terpenuhi hasrat belajar setiap orang dan organisasi
4. Perlu adanya keahlian dan pengelolaan atas kegiatan khusus dalam mengembangkan dan memamfaatkan sumber belajar tersebut secara efektif efesian dan selaras.

Dasar Teori : Keamanan Komputer


google-1456525475766-03-354x220Computer Security
adalah bagian dari ilmu komputer yang bertugas untuk mengontrol resiko yang berhubungan dengan penggunaan komputer. Computer Security yang dimaksud adalah keamanan sebuah komputer yang terhubung ke dalam sebuah jaringan (Internet), dari akses yang tidak memiliki hak untuk mencoba masuk untuk memperoleh informasi dan service tertentu yang ada di dalam sistem. Usaha untuk mengakses paksa ini terdapat banyak macamnya, baik itu intrusion (serangan dari luar organisasi) atau misuse (serangan dari dalam organisasi), dengan level hacker (hanya mencoba masuk ke dalam sistem komputer) atau bahkan cracker (mencoba masuk dan merusak untuk keuntungan pribadi).

1. Pengertian Malicious Software

Seperti yang sudah dijelaskan di Latar Belakang, Malicious Software atau Malware merupakan suatu program yang dapat merusak sistem komputer kita tanpa kita sadari. Malware sendiri terdiri dari beberapa kelompok, yaitu :
A. Infectious Malware, yaitu malware yang meng-infeksi sistem dalam komputer kita. Jenis dalam tipe malware ini adalah computer viruses dan computer worms. Sering kali kita berpikir bahwa computer viruses dan worms adalah sama, padahal sebenarnya tidak jika dilihat dari bagaimana cara penyebarannya. Berikut akan dibahas mengenai tipe – tipe dari infectious malware.
– Sebelum internet access digunakan secara luas, penyebaran virus pada PC adalah dengan
menginfeksi programs atau executable boot sectors pada floppy disks. Computer virus akan menginfeksi executable software dan akan menginfeksi sistem komputer kita bila kita menjalankan executable software yang sudah terinfeksi oleh virus tersebut.
– Worms pertama kali dibuat bukan dalam komputer biasa, tetapi dalam sistem Unix. Worms yang pertama kali dikenal adalah Internet Worm (1988), yang menginfeksi SunOS dan sistem VAX BSD. Tidak seperti virus, worms tidak memasukkan dirinya ke dalam program lain. Melainkan dengan cara mengexploitasi lubang security pada network server programs dan mulai menjalankan dirinya sebagai proses yang berbeda. Saat ini worms sering dibuat untuk Windows OS, walaupun dibuat juga untuk sistem Linux dan Unix. Cara kerja worms memiliki basic yang sama dengan Internet Worm pada tahun 1988, yaitu dengan men-scan komputer dalam jaringan yang dapat diakses, kemudian meng-copy dirinya sendiri.
B. Concealment Malware, yaitu malware yang secara diam – diam masuk dalam komputer kita. Malware tipe ini dapat bekerja dalam komputer kita tanpa diketahui oleh pengguna komputer tersebut. Cara kerja malware tipe ini mirip dengan teknik Trojan horse atau trojan. Trojan horse adalah program yang meminta pengguna untuk menjalankannya, namun secara diam – diam memasukkan tools yang berbahaya. Tools tersebut dapat menyebabkan efek langsung, dan efek nya pun dapat bermacam – macam, seperti menghapus semua file pengguna, atau lebih umum lagi dapat meng-install software berbahaya ke dalam sistem pengguna untuk tujuan jangka panjang. Satu dari banyak cara spyware termasuk dalam Trojan horse, adalah dengan menyatukan Trojan program tersebut dalam sebuah software yang di-download oleh pengguna melalui Web atau file –sharing. Ketika pengguna meng-install software yang di-download tersebut, secara otomatis spyware juga ter-install. Sekali malicious program ter-install dalam sistem, itu memungkinkan pembuat malicious program tersebut tersembunyi, sama saja ketika seseorang menyerang langsung ke komputer tersebut. Teknik tersebut dikenal sebagai rootkits yang memperbolehkan persembunyian ini dengan cara mengubah sistem operasi komputer sehingga malware tersebut disembunyikan dari pengguna. Rootkits dapat mencegah laporan sebuah proses malicious dalam tabel proses atau menjaga file tersebut dari status read.
c. Malware for profit, yaitu malware yang digunakan untuk mencari keuntungan. Ada beberapa malware pada tipe ini, diantaranya adalah spyware, botnets, loggers, dan dialers.
– Spyware adalah produksi yang memungkinkan pengumpulan informasi mengenai komputer pengguna, memperlihatkan iklan, atau menggunakan kebiasaan web-browser untuk keuntungan finansial bagi pembuat spyware tersebut. Biasanya, beberapa spyware programs mengubah hasil search engine menjadi iklan. Spyware biasanya ter-install sebagai trojan horses.
– Spammer viruses, seperti kelompok virus Sobig dan Mydoom, mendapatkan komisi dari e-mail spam. Komputer yang terinfeksi digunakan sebagai proxies untuk mengirimkan pesan yang bertipe spam. Keuntungan spammers menggunakan komputer yang terinfeksi adalah kemungkinan penyebaran dalam jumlah besar dan sumbernya tidak diketahui, dan juga mengamankan spammer dari tuntutan. Spammers juga menggunakan komputer yang terinfeksi untuk menyerang organisasi anti-spam dengan Distributted Denial-of-Service (D-DoS) attack.
– Botnets. Dalam botnets, malware masuk ke dalam sebuah Internet Relay Chat (IRC) channel, atau sistem chat lainnya. Penyerang dapat memberikan instruksi pada semua sistem yang terinfeksi secara simultan.
– Mungkin untuk pembuat malware mencari keuntungan dengan mencuri informasi dari seseorang yang komputer-nya terinfeksi. Beberapa malware programs meng-install sebuah keylogger, dimana meng-copy semua ketikan pengguna pada keyboard ketika mengetik password, nomor credit card, atau informasi lainnya yang mungkin berguna bagi pembuat malware. Kemudian data ini dikirim secara otomatis ke pembuat malware tersebut, memperbolehkan penipuan credit card  dan kejahatan pencurian lainnya. Keylogger juga dapat meng-copy CD-Key atau password pada online games, yang memungkinkan pembuat untuk mencuri accounts atau virtual items.
– Cara lainnya untuk mencuri uang dari komputer yang terinfeksi adalah dengan mengontrol modem dan men-dial nomor telepon yang mahal. Dialer atau Porn Dialer software men-dial sebuah nomor telepon premium yang mahal dan meninggalkan dial tersebut sehingga korban harus membayar biaya telepon itu.

2.  Analisis Penyebab Komputer Terkena Serangan Malware

Ada beberapa penyebab kenapa komputer bisa terkena serangan malware. Yang paling penting adalah dari segi keamanan pada komputer kita. Berikut akan dibahas penyebab – penyebab kenapa komputer bisa terkena serangan malware.
– Kelengahan dari pengguna.
Penyebab paling utama dan paling sering terjadi adalah karena kelengahan atau kesalahan dari pengguna komputer tersebut. Hal yang paling dasar adalah pada saat kita men-download suatu file, jika file tersebut mengandung malware, tanpa kita sadari kita memasukkan malware tersebut ke dalam komputer kita. Kemudian ada juga kesalahan ketika kita membuka file dari storage disk seperti floppy disk atau flashdisk dan semacamnya, bisa saja storage disk tersebut sudah terinfeksi oleh malware dan malware tersebut sudah menginfeksi file yang ada di dalam storage disk tersebut dan kita membuka file tersebut, secara otomatis komputer yang kita gunakan sudah mengakses malware yang ada dalam file tersebut.
– Komputer belum mempunyai sistem keamanan yang baik.
Penyebab lainnya yang juga sering terjadi yaitu berasal dari sistem yang ada di komputer kita. Sering kali kita lengah dan merasa keamanan komputer itu tidaklah penting. Keamanan komputer memang tidak perlu diperhatikan jika pada komputer kita tidak ada perangkat lain seperti floppy disk, cd/dvd-rom, usb, internet, dan juga tidak terhubung dalam jaringan. Jadi komputer kita hanya digunakan untuk keperluan dalam komputer itu saja, dan file dari luar komputer tidak bisa masuk ke dalam komputer, dan file dalam komputer juga tidak bisa di-copy keluar. Tetapi jika komputer kita mempunyai salah satu saja dari perangkat diatas, maka keamanan pada komputer harus sangat kita perhatikan. Mengapa kita harus memperhatikan keamanan komputer? Saat ini sudah banyak malware yang dapat merusak sistem komputer kita. Bayangkan ketika ada data penting anda hilang
atau diambil oleh orang lain tanpa seijin anda. Bayangkan ketika data pribadi perusahaan anda diambil oleh saingan perusahaan anda. Banyak sekali kerugian yang didapatkan hanya karena komputer belum mempunyai sistem keamanan yang baik.
– Hole – hole dalam sistem operasi yang dipakai. Penyebab lain yang tidak berhubungan langsung dengan pengguna adalah lubang – lubang security yang terdapat pada sistem operasi yang kita pakai. Banyak pelaku kejahatan cyber menggunakan lubang – lubang security tersebut karena sifatnya sama di tiap komputer, apalagi bila sistem operasi pada komputer – komputer tersebut belum di-update. Bagaimana cara meng-update / menutup
lubang – lubang security pada komputer kita? Caranya ialah kita harus meng-update melalui website dari sistem operasi yang kita gunakan. Misalnya saja kita menggunakan sistem operasi berbasis Windows. Untuk meng-update-nya maka kita harus masuk ke situs Microsoft, dan mendownload file update tersebut, atau yang banyak disebut sebagai hotfix. Masalahnya, saat ini untuk dapat meng-update sistem operasi tersebut, sistem operasi yang kita gunakan harus di-detect sebagai sistem operasi yang asli (bukan bajakan). Padahal sedikit sekali dari kita yang menggunakan sistem operasi yang asli karena harganya yang bisa dikatakan mahal. Jadi update dari sistem operasi ini sering kali dilupakan oleh pengguna komputer padahal celah – celah inilah yang paling sering digunakan para hacker untuk menembus sistem keamanan di komputer kita.
– Penyebab lainnya
Penyebab lain yang mungkin tidak berhubungan sama sekali dengan pengguna / korban adalah bila korban menggunakan komputer di tempat umum seperti warnet. Bisa saja komputer tersebut menggunakan malware keylogger. Korban tanpa sadar memasukkan data – data rahasia seperti password, PIN, maupun data lainnya yang sangat penting. Lalu si pelaku bisa melihat apa saja data penting korban tersebut dan menggunakannya tanpa ijin dan membuat kerugian besar terhadap korban. Contoh Kasus Ada beberapa contoh kasus dalam penggunaan program malware ini. Berikut adalah contoh – contoh kasus yang pernah terjadi :
a. Penyebaran Virus Brontok.
Beberapa saat lalu, dunia komputer dikejutkan oleh adanya virus yang dinamakan Brontok / RontokBro. Cara kerja virus ini adalah dengan menginfeksikan dirinya ke dalam suatu file, dan akan menginfeksi sistem komputer apabila kita membuka file yang terinfeksi tersebut. Sebab – sebab yang diakibatkan oleh virus ini yaitu hilangnya sistem regedit dari komputer kita, kemudian kita tidak bisa membuka ‘Folder Option’ yang harusnya tersedia pada ‘Control Panel’.Ketika pertama kali muncul, tidak banyak orang yang tahu bagaimana cara menghilangkan virus ini karena anti-virus yang ada belum memiliki cara untuk menghapus dan membersihkan komputer dari virus ini. Pada waktu itu, cara yang paling sering digunakan oleh banyak orang adalah dengan mem-format komputer agar sistem dapat kembali seperti baru. Tapi bila file yang berisikan virus brontok ini masuk ada di komputer kita, dan kita membuka kembali file tersebut, ya secara otomatis virus itu akan menginfeksi sistem komputer kita lagi. Sampai saat ini virus brontok masih tersebar di berbagai komputer terutama komputer yang tidak memiliki keamanan dan komputer pada warnet – warnet.
b. Penyebaran Worm Blaster.
Beberapa tahun yang lalu, para pengguna komputer mungkin terkejut ketika sedang menggunakan komputer kemudian ada pemberitahuan bahwa komputer akan restart dalam waktu 60 detik, dan ada timer countdown pada pesan tersebut. Kita tidak dapat menutup pesan tersebut karena pesan tersebut. Kemudian setelah 60 detik maka komputer kita akan restart dengan sendirinya, dan kemudian beberapa saat setelah restart, pesan tersebut kembali muncul, dan hal itu terjadi berulang – ulang tanpa sempat kita mencari dimana kesalahannya. Setelah beberapa hari kemudian ada update dari produsen anti-virus agar worm blaster tersebut dapat dihapus dengan menggunakan anti-virus tersebut. Tetapi bagaimana kita bisa menghapus worm tersebut sedangkan setiap beberapa menit komputer kita restart dengan sendirinya? Hal ini bisa diakali dengan menggunakan cara ‘Safe Mode Logon’ yang ada pada setiap sistem operasi. Dengan menggunakan fasilitas Safe Mode, maka kita bisa men-scan komputer kita dan menghapus worm tersebut. Pada saat ini worm blaster sudah jarang ditemui pada komputer – komputer apabila komputer tersebut sudah memiliki sistem keamanan yang bisa dibilang lumayan baru, karena update untuk worm blaster ini sudah lama dikeluarkan oleh vendor – vendor anti-virus yang ada.
c. Penggunaan Credit Card orang lain.
Kasus yang ini paling susah untuk dideteksi apabila komputer kita tidak memiliki sistem keamanan yang baik. Pada kasus ini tools malware yang paling sering digunakan adalah keylogger. Dengan menggunakan keylogger maka apa yang kita ketik pada keyboard akan tercatat pada suatu file log dan file tersebut dapat dikirim secara otomatis kepada pelaku. Pelaku kemudian melihat manakah data – data penting yang bisa diambil, misalnya nomor kartu kredit beserta password atau PIN untuk menggunakan kartu tersebut. Kemudian secara bebas pelaku menggunakan kartu kredit korban untuk mencari keuntungan lainnya. Yang membuat tools ini sulit dideteksi disebabkan karena ada beberapa tools keylogger yang tidak terdeteksi oleh antivirus yang terbaru sekalipun.
d. Spamming.
Cara kerja spamming adalah dengan mengirim e-mail iklan dan sebagainya secara otomatis dan akan hal ini akan dilakukan secara terus menerus tanpa bisa dihentikan kecuali mail server yang kita gunakan dapat membedakan mana e-mail yang bersifat spam dan mana e-mail yang bukan spam. Spamming sebenarnya tidak terkait langsung dengan masalah keamanan komputer, tetapi berkaitan oleh pengguna. Sering kita masuk ke suatu situs dan kemudian situs tersebut meminta alamat email kita. Alamat email yang kita isi kemudian akan dikirimi e-mail yang bila kita buka maka dengan otomatis malware tersebut terinstall secara diam – diam di komputer kita, dan akan mengirimkan e-mail – e-mail pada semua alamat e-mail yang ada pada address book kita, dan hal ini dilakukan terus menerus, dan akan dilanjutkan apabila ada orang lain yang membuka e-mail tersebut. Program spamming ini adalah salah satu malware yang paling sulit untuk dihilangkan. Karena dengan menggunakan software tertentu, setiap orang bisa membuat program yang mirip dengan program spamming.
e. Spyware, Trojan horse, Adware.
Contoh lain adalah kasus malware yang berhubungan dengan Spyware, Trojan horse, dan Adware. Cara kerja Spyware sebenarnya mirip dengan Trojan horse, yaitu menginfeksi sistem komputer kita secara sembunyi – sembunyi dan biasanya ikut ter-install ketika kita meng-install program lain. Kasus yang berhubungan dengan Trojan dan Spyware yaitu ketika ada orang lain yang dapat mengakses data dalam komputer kita, mengubahnya, serta menghapus data tersebut. Untuk kasus Adware, banyak terjadi di warnet – warnet umum yang tidak memiliki sistem keamanan yang baik. Pada komputer di warnet tersebut, ketika kita membuka 1 halaman Internet Explorer, maka secara otomatis akan muncul Pop-Up – Pop-Up yang berisi iklan – iklan, dan kebanyakan merupakan iklan porno. Jika kita mengklik iklan tersebut, bisa saja ada malware lainnya yang menginfeksi sistem komputer kita. Adware biasanya menginfeksi komputer yang penggunanya suka mengakses situs – situs porno, dan situs – situs yang menyediakan crack untuk program – program yang sebenarnya harus dibeli. Selain itu adware juga dapat menyebar seperti spyware dan trojan, yaitu dengan ikut serta dalam suatu program. Sampai saat ini penggunaan Spyware, Trojan horse, dan Adware juga susah dihilangkan karena ini tergantung dengan pengguna, apabila pengguna sering meng-install program tanpa melihat – lihat ‘Terms and Agreement’-nya, karena biasanya pemberitahuan mengenai Spyware dan Trojan ada pada ‘Terms and Agreement’ yang ada pada saat kita meng-install suatu program.

Filsafat Ilmu

AIlmu dan Filsafatfilsafat-hidup2

Alkisah bertanya seorang awam kepada ahli filsafat yang arif bijaksana, “Coba sebutkan kepada saya berapa jenis manusia yang terdapat dalam kehidupan ini berdasarkan pengetahuannya!” Filsuf itu menarik napas panjang dan berpantunn : “Ada orang yang tahu di tahunya, ada orang yang  tahu di tidaktahunya, ada orang tidak tahu di tahunya, ada orang yang tidak tahu di tidaktahunya ” bagaimanakah carana agar saya mendapatkan pengetahuan yang benar? sambung orang awam itu; penuh hasrat dalam ketidaktahunnya. ”Mudah saja,” jawab filsuf itu, “ketahuilah apa yang kau tahu dan ketahuilah apa yang kau tidak tahu.” pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu dan filsafat dimulai dengan kedua-duanya. berfilsafat berarti berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah kita ketahui dalam kesemestaan yang seakan tak terbatas ini. demikian juga berfilsafat berarti mengoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah kita jangkau. Ilmu merupakan pengetahuan yang kita gumuli sejak bangku sekolah dasar sampai pendidikan lanjutan dan perguruan tinggi. berfilsafat tentang ilmu berarti  kita terus terang kepada diri kita sendiri: Apakah sebenarnya yang saya ketahui tentang ilmu? Apakah ciri-cirinya yang hakiki yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lainnya yang bukan ilmu? Bagaimana saya ketahui bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang benar? Bagaimana saya ketahui bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang benar? Bagaimana saya ketahui bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang benar? Kriteria apa yang kita pakai dalam menentukan kebenaran secara ilmiah? Mengapa kita mesti mempelajari ilmu? Apakah kegunaan yang sebenarnya? Demikian juga berfilsafat berarti berendah hati mengevaluasi segenap pengetahuan yang telah kita ketahui: Apakah ilmu telah mencakup segenap pengetahuan yang seyongyanya saya ketahui dalam kehidupan ini? Dibatas manakah ilmu mulai dan dibatas manakah dia berhenti? Kemanakah saya harus berpaling di batas ketidaktahuan ini? Apakah kelebihan dan kekuarangan ilmu? (Mengetahui kekurangan bukan berarti merendahkanmu, namun secara sadar memamfaatkan, untuk terlebih jujur dalam mencintaimu).

Apakah Filsafat?

Seorang yang berfilsafat dapat diumpamakan seorang yang berpijak di bumi sedang tengadah ke bintang-bintang. Dia ingin mengetahui hakikat dirinya dalam kesemestaan galaksi. Atau seorang, yang berdiri di puncak tinggi, memandang ke ngarai dan lembah dibawahnya. Dia ingin menyimak kehadirannya dengan kesemestaan yang ditatapnya. Karakteristik berfikir filsafat yang pertama adalah sifat menyeluruh . Seorang Ilmuan tidak puas lagi mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri. Dia ingin melihat hakikat ilmu dalam konstelasi pengetahuan yang lainya. Dia ingin tahu kaitan ilmu dengan moral. Kaitan ilmu dengan agama. Dia ingin yakin apakah ilmu itu membawa kebahagian kepada dirinya. Sering melihata seorang ilmuan yang picik. Ahli fisika nuklir memandang rendah kepada ilmuan sosial. Lulusan IPA merasa lebih tinggi dari lulusan IPS. Atau lebih sedih lagi, seorang ilmuan memandang rendah kepada pengetahuan lain. ereka meremehkan moral, agama dan nilai estitika. Mereka para ahli yang berada dibawh tempurung disiplin keilmuannya masing-masing, sebaiknya tengadah kebintang-bintang dan tercengang: Lho, Kok masih ada langit lain diluar temperung kita. Dan kita pun selalu menyadari kebodohan kita sendiri. Yang saya ketahui, simpul sokrates, ialah bahwa saya tak tahu apa-apa!

Filsafat : Peneratas Pengetahuan

Filsafat, meminjam pemikiran Will Durant dapat diibaratkan pasukan marinir yang merebut partai untuk pendaratan pasukan infanteri. Pasukan infanteri ini adalah sebagai pengetahuan yang di anataranya adalah ilmu. Filsafatlah yang menyenangkan tempat berpijak bagi kegiatan keilmuan. Filsafatlah yang memenangkan tempat berpijak bagi kegiatan keilmuan. Setelah itu ilmuanlah yang membelah gunung dan merabah hutan, menyempurnakan kemenangan ini menjadi pengetahuan yang dapat  diandalkan. Setelah penyerahan dilakukan maka filsafat pu pergi. Dia kembali menejelajah laut lepas; berspekulasi dan meneratas. Nama asal fisika adalah filsafat alam (natural philosophy) dan nama asal ekonomi adalah fislafat moral (moral philosohy). Dalam perkembangan filsafat menjadi ilmu maka terdapat taraf peralihan ini maka bidang penjelajahan filsafat menjadi lebih sempit, tidak lagi menyeluruh melainkan sektoral. Di sini orang tidak lagi mempermasalahkan moral secara keseluruhan melainkan dikaitkan dengan kegiatan manusia dalam memenuhi kebutuhan hidupnya yang kemudian berkembang menjadi ilmu ekonomi. Walaupun demikian dalam taraf ini secara konseptual ilmu masih mendasarkan kepada norma-norma filsafat. Umpamanya ekonomi masih merupakan penerapan etika (applied etihics) dakam kegiatan manusia memenuhi kebutuhan hidupnnya. Metode yang dipakai adalah normatif dan deduktif berdasarkan asas-asas moral yang filsafati. pada tahap selanjutnya ilmu menyatakan dirinya Otonom dari konsep-konsep filsafat dan mendasarkan sepernuhnya kepada hakikat alam sebagaimana adanya. Pada tahap peralihan ilmu masih mendasarkan kepada norma yang seharusnya, sedangkan dalam tahap terakhi ini, ilmu mendasarkan kepada pengetahuan tentang alam dan isinya maka manusia tidak lagi mempergunakan metode yang bersifat normatif dan deduktif melainkan kombinasi antara deduktif dan in-duktif dengan jabatan yang meruapakan pengajuan hipotesis yang dikenal sebagai metode Logic-hypothetico-verifikatif. “Tiap ilmu dimulai dengan filsafat dan diakhiri dengan seni,” ujar Will Durant, “muncul dalam hipotesis dan berkembang keberhasilan.

Bidang Telaah Filsafat

Apakah yang sebenarnya ditelaah filsafat?

Selaras dengan dasarnya yang spekulaatif, maka dia menelaah segala masalah yang mungkin dapat dipikirkan oleh manusia. Sesuai dengan fungsinya sebagai pionir dia mempermasalahkan hal-hal yang pokok : Terjawab masalah yang satu, dia pun mulai merambah pertanyaan lain. Tentu saja setiap kurun zaman mempunyai msalah yang merupakan

Metode Penelitian

A. Pengertian Metode Penelitian

logo-kk“Metodologi penelitian” berasal dari kata “Metode” yang artinya cara yang tepat untuk melakukan sesuatu; dan “Logos” yang artinya ilmu atau pengetahuan. Jadi, metodologi artinya cara melakukan sesuatu dengan menggunakan pikiran secara saksama untuk mencapai suatu tujuan. Sedangkan “Penelitian” adalah suatu kegiatan untuk mencari, mencatat, merumuskan dan menganalisis sampai menyusun laporannya. Tentang istilah “Penelitian” banyak para sarjana yang mengenukakan pendapatnya, seperti :

a. David H. Penny
Penelitian adalah pemikiran yang sistematis mengenai berbagai jenis masalah yang pemecahannya memerlukan pengumpulan dan penafsiran fakta-fakta.
b. J. Suprapto MA
Penelitian ialah penyelididkan dari suatu bidang ilmu pengetahuan yang dijalankan untuk memperoleh fakta-fakta atau prinsip-prinsip dengan sabar, hati-hati serta sistematis.
c. Sutrisno Hadi MA
Sesuai dengan tujuannya, penelitian dapat didefinisikan sebagai usaha untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan.

d. Mohammad Ali
Penelitian adalah suatu cara untuk memahami sesuatu dengan melalui penyelidikan atau
melalui usaha mencari bukti-bukti yang muncul sehubungan dengan masalah itu, yang dilakukan secara hati-hati sekali sehingga diperoleh pemecahannya. Dari batasan-batasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan metodologi penelitian adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang membicarakan/mempersoalkan mengenai cara-cara melaksanakan penelitian sampai menyusun laporannya) berdasarkan fakta-fakta atau gejala-gejala secara ilmiah. Lebih luas lagi dapat dikatakan bahwa metodologi penelitian adalah ilmu yang mempelajari cara-cara melakukan pengamatan dengan pemikiran yang tepat secara terpadu melalui tahapan-tahapan yang disusun secara ilmiah untuk mencari, menyusun serta menganalisis dan menyimpulkan data-data, sehingga dapat dipergunakan untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran sesuatu pengetahuan berdasarkan bimbingan Tuhan. Metodologi penelitian terdiri dari kata metodologi yang berarti ilmu tentang jalan yang ditempuh untuk memperoleh pemahaman tentang sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Sejalan dengan makna penelitian tersebut di atas, penelitian juga dapat diartikan sebagai usaha/kegiatan yang mempersyaratkan keseksamaan atau kecermatan dalam memahami kenyataan sejauh mungkin sebagaimana sasaran itu adanya. Jadi, metodologi penelitian adalah ilmu mengenai jalan yang dilewati untuk mencapai pemahaman. Jalan tersebut harus ditetapkan secara bertanggung jawab ilmiah dan data yang dicari untuk membangun/ memperoleh pemahaman harus melalui syarat ketelitian, artinya harus dipercaya kebenarannya.
B. Perkembangan Metodologi Penelitian
Ilmu pengetahuan memiliki sifat utama yaitu tersusun secara sistematik dan runtut dengan menggunakan metode ilmiah. Karenanya sementara orang menganggap perlunya memiliki sikap ilmiah untuk menyusun ilmu pengetahuan tersebut atau dengan kata lain ilmu pengetahuan memiliki tiga sifat utama tersebut, yaitu :

1) Sikap ilmiah
2) Metode ilmiah
3) Tersusun secara sistematik dan runtut
Sikap ilmiah menuntun orang untuk berpikir dengan sikap tertentu. Dari sikap tersebut orang dituntun dengan cara tertentu untuk menghasilkan ilmu pengetahuan. Selanjutnya cara tertentu itu disebut metode ilmiah. Jadi dengan sikap ilmiah dan metode ilmiah diharapkan dapat disusun ilmu pengetahuan dengan sistematik dan runtut. Periode perkembangan metodologi penelitian yang dikemukakan oleh Rummel yang dikutip oleh Prof. Sutrisno Hadi MA digolongkan sebagai berikut :

a. Periode Trial and Error
Dalam periode ini diisyaratkan bahwa ilmu pengetahuan masih dalam keadaan embrional. Dalam periode ini orang menyusun ilmu pengetahuan dengan cara mencobacoba berulang kali sampai dijumpia suatu pemecahan masalah yang diangap memuaskan.
b. Periode Authority and Tradition
Pada periode ini kebenaran ilmu pengetahuan didasarkan atas pendapat para pemimpin atau penguasa waktu itu. Pendapat-pendapat itu dijadikan ajaran yang harus diikuti begitu saja oleh rakyat banyak dan mereka harus menerima bahwa ajaran tersebut benar. Di samping pendapat para penguasa atau pemimpin, tradisi dalam kehidupan manusia memang memegang peranan yang sangat penting di masa lampau dan menentang tradisi merupakan hal yang tabu. Karenanya tradisi dipercaya sebagai hal yang benar, sehingga tradisi menguasai cara berpikir dan cara kerja manusia berabad-abad lamanya. Sebagai contoh,sampai pertengahan abad 20, petani Jawa masih memegang tradsisi bahwa mereka akan segera turun ke aswaah apabila telah melihat bintang biduk (gubuk penceng) sebagai pertanda mulai turun hujan.
c. Periode Speculation and Argumentation
Pada periode ini ajaran atau doktrin para pemimpin atau penguasa serta tradisi yang bercakal dalam kehidupan masyrakat mulai menggunakan dialektika untuk mengadakandiskusi dalam memecahkan masalah untuk memperoleh kebenaran. Dengan kata lain, masyarakat mulai membentuk kelompok-kelompok spekulasi untuk memperoleh kebenaran dan menggunakan argumen-argumen. Masing-masing kelompok membuat spekulasi dan argumen yang berbeda dalam memperoleh kebenran. Oleh sebab itu, pada saat ini orang terlalu mendewakan akal dan kepandaian silat lidahnya, yang kadangkadang dibuat-buta supaya tampak masuk akal.
d. Periode Hypothesis and Experimentation
Pada periode ini orang mulai mencari rangkaian tata cara untuk mnerangkan suatu kejadian. Mula-mula membuat dugaan-dugaan (hipotesis-hipotesis), kemudian mengumpulkan fakta-fakta kemudian dianalisis dan diolah, hingga akhirnya ditarik kesimpulan. Fakta-fakta tersebut diperoleh dengan eksperimen atau observasi-observasi serta dokumen-dokumen.

(Narbuko, Drs. Cholid dan Drs. H. Abu Achmadi. 2012. Metodologi Penelitian. Jakarta :
Bumi Aksara.)

1. Metode Kuantitatif

Metode ini digunakan apabila :

a. Bila masalah yang merupakan titik tolak penelitian sudah jelas. Masalahadalah merupakan penyimpangan antara masalah dengan yang seharusnyaterjadi, antara lain aturan dengan pelaksanaan, antara teori dan praktek,antara rencana dengan pelakasanaan. Dalam menyusun proposalpenelitian, masalah aharus ditunjukkan dengan data, baik data hasilpenelitian sendiri ataupun dokumentasi. Misalnya akan meneliti untuk menemukan pola pemberantasan kemiskinan, maka datra orang miskinsebagai masalah harus ditunjukkan.

b. Bila peneliti ingin mendapatkan informasi yang luas dari suatu populasi.Metode penelitian kuantitatif cocok digunakan untuk mendapatkaninformasi yang luas tetapi tidak mendalam. Bila populasi terlalu luas,maka penelitian dapat menggunakan sample yang diambil dari populasitersebut.
c. Bila ingin diketahui pengaruh perlakuan tertentu terhadap yang lain. Untuk kepentingan ini metode eksperimen paling cocok digunakan. Misalnyapengaruh jamu terhadap derajat kesehatan.
(Halaman 23)
d. Bila peneliti bermaksud menguji hipotesis penelitian. Dapat berbentuk hipotesis deskriptif, komparatif, dan asosiatif.
e.   Bila peneliti ingin mendapatkan data yang akurat berdasarkan fenomenayang empiris yang dapat diukur. Misalnya ingin mengaetahui IQ anak-anak dari masyarakat tertentu.
f.  Bila ingin menguji terhadap adanya keragu-raguan terhadap validitaspengetahuan, teori dan produk tertentu.
(Halaman 24)
 

2. Metode Kualitatif 

Metode kualitatif digunakan apabila :
a. Bila masalah penelitian belum jelas, masih remang-remang atau mungkinmalah masih gelap. Kondisi secam ini cocok diteliti dengan metodekualitatif, karena peneliti kualitatif akan langsung masuk ke objek,melakukan penjelajahan dengan grand tour question, sehingga masalah akan dapat ditemukan dengan jelas. Melalui penelitian model ini, penelitiakan melakukan ekplorasi terhadap suatu objek. Ibarat orang akan mencarisumber minyak, tambang emas dan lain-lain.
b. Untuk memahami makna di balik data yang tampak. Gejala social seringtidak bisa dipahami berdasarkan apa yang diucapkan dan dilakukan orang.Sebagai contoh orang yang menangis, tertawa memiliki makna tertentu,sering terjadi, menurut penelitian kuantitatif benar, tetapi menjadi tandaTanya menurut penelitian kualitatif. Sebagai contoh ada 99 orangmenyatakan bahwa A adalah pencuri, sedangkan 1 orang menyatakantidak, mungkin yang satu orang ini yang benar. Menurut penelitiankuantitatif, cinta suami kepada istri dapat diukur dari banyaknya seharidicium, dalam penelitian kualitatif, semakin banyak istri dicium makamalah manjadi tanda Tanya, jangan-jangan hanya pura-pura. Data untuk mencari makna dari setiap perbuatan tersebut hanya cocok dengan metodekualitatif dangan teknik wawancara mendalam dan observasi berperanserta, dan dokumentasi. (Halaman 24).

 Masalah

  • Sumber Masalah

    Masalah dapat diartikan sebagai penyimpangan antara yang seharusnyadengan apa yang benar-benar terjadi, antara aturan dengan pelaksanaan. Stoner (1982) mengemukakan bahwa masalah-masalah dapat diketahui ataudicari apabila terdapat penyimpangan antara pengalaman dengan kenyataan,adanya pengaduan dan kompetisi. (Halaman 32)
    a. Terdapat penyimpangan antara pengalaman dengan kenyataanDidunia in yang tetap hanya perubaha, namun sering perubahan itutidak diharapkan oleh orang-orang tertentu, karena akan daaptmenimbulkan masalah. Orang biasanya menjadi pimpinan pada bidangpemerintahan harus berubah kebidang bisnis. Orang yang biasanyamenulis menggunakan mesin ketik manual harus bergantu dengan computer, maka akan muncul masalah. Apakah masalahnya terjadi setelahterjadi perubahan.
    b. Terdapat penyimpangan antara apa yang telah direncanakan dengankenyataanSuatu rencana yang telah ditetapkan tetapi hasilnya tidak sesuai dengantujuan dari rencana tersebut, maka tentu ada masalah. Jadi untuk menemukan masalah dapat diperoleh dengan cara melihat dari adanyapenyimpangan antara yang direncanakan dengan kenyataan.
    c. Ada pengaduanDalam suatu organisasi yang tadinya tenang tidak ada masalah,ternyata setelah ada pihak tertentu yang mengadukan produknya maupun ,pelayanan yang diberikan, maka akan timbul masalah dalam organisasitersebut.  (Halaman 33)
    d. Adanya kompetisiAdanya saingan atau kompetisi sering menimbulkan masalah besar,bila tidak dapat memanfaatkan untuk kerjasama. Perusahaan pos dan giromerasa mempunyai masalah setelah adanya biro jasa lain yang menerimatitipan surat, titipam barang, adanya handphone untuk SMS, email. Dalamproposal penelitian, setiap masalah harus ditunjukkan dengan data.Misalnya penelitian tentang SDM, maka masalah SDM harus ditunjukkandengan data. Masalah SDM misalnya, berapa jumlah SDM yang terbatas, jenjang pendidikan yang rendah, komptensi dan produktivitas yang masihrendah. (Halaman 34)

    Rumusan Masalah

    Rumusan masalah berbeda dengan masalah. Kalau masalah itu merupakankesenjangan antara yang diharapkan dengan yang terjadi, maka rumusan masalahitu merupakan suatu perntanyaan yang akan dicari jawabannya melaluipengumpulan data. Namun demikian terdapat kaitan antara masalah denganrumusan masalah, karena setiap rumusan masalah penelitian harus berdasarkanpada masalah.
    Bentuk-bentuk rumusan masalah penelitian 
    Bentuk rumusan masalah penelitian ini dikembangkan berdasarkanpenelitian menurut tingkat ekplanasi (level of explanation). Bentuk masalahdapat dikelompokkan kedalam bentuk masalah deskriptif, komparatif danasosiatif.

    a. Rumusan masalah deskriptif 

    Rumusan masalah deskriptif adalah suatu rumusan masalah yangberkenaan dengan pertanyaan terhadap keberadaan variable mandiri, baik hanya pada satu variable atau lebih (variable yang beridiri sendiri). Jadidalam peneltian ini peneliti tidak membuat perbandingan variable itu padasample yang lain, dan mencari hubungan variable itu dengan variableyang lain. Penelitian semacam ini selanjutnya dinamakan penelitiandeskriptif. Contoh rumusan masalah deskriptif 
    1)    Seberapa baik kinerja cabinet bersatu?
    2)   Bagaimanakah sikap masyarakat terhadap perguruan tinggi negeriberbadan                  hukum?
    3)   Seberapa tinggi efektivitas kebijakan mobil berpenumpang tiga?
    4)   Seberapa tinggi tinggi tingkat kepuasan konsumen dan apresiasimasyarakat                  terhadap pelayanan pemerintah daerah di bidangkesehatan? (Halaman 35)

    b. Rumusan masalah komparatif

    Rumusan masalah komparatif adalah rumusan masalah penelitian yangmembandingkan keberadaan satu variable atau lebih pada dua atau lebihsample yang berbeda, atau pada waktu yang berbeda.Contoh rumusan masalahnya sebagai berikut:
    1) Adakah perbedaan produktivitas kerja antara pegawai negeri denganswasta? (Satu variable pada dua sample)
    2) Adakah kesamaan cara promosi antara perusahaan A dan B?
    3) Adakah perbedaan kemampuan dan disiplin kerja antara pegawaiswasta nasional dan perusahaan asing? (dua variable pada dua sample)
    4) Adakah perbedaan kenyamaan naik kereta api dan bus menurutkelompok masyarakat?
    5) Adakah perbedaan daya tahan berdiri pelayan toko yang berasal darikota, desa dan gunung? (satu variable pada tiga sample)
    6) Adakah perbedaan tingkat kepuasan masyarakat di Kabupaten A dan Bdalam hal pelayanan kesehatan?

    c. Rumusan masalah asosiatif 

    Rumusan masalah asosiatif adalah rumusan masalah penelitian yangbersifat menanyakan hubungan antara dua variable atau lebih. Terdapattiga bentuk hubungan yaitu: hubungan simetris, hubungan kausal, daninteraktif/ reciprocal/ timbal balik.
    1) Hubungan simetris
    Hubungan simetris adalah hubungan antara dua variable atau lebihyang kebetulan munculnya bersama. Jadi bukan hubungan kausalmaupun interaktif, contoh rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:
    a) Adakah hubungan antara banyaknya semut dipohon dengan tingkatmanisnya buah.
    b) Adakah hubungan antara jumlah payung yang terjual dengan jumlah kejahatan?
    (Halaman 36)
    2) Hubungan kausal
    Hubungan kausal adalah hubungan yang bersifat sebab akibat. Jadidisini ada variable independent (variable yang mempengaruhi) dandependen (dipengaruhi), contoh:
    1)   Adakah pengaruh system penggajian terhadap prestasi kerja?
    2) Seberapa besar pengaruh tata ruang kantor terhadap efisiensi kerjakaryawan?Contoh judul:
    a)  Pengaruh insentif terhadap disiplin kerja karyawan di departemen X?
    3) Hubungan Interaktif
    Hubungan interaktif adalah hubungan yang saling mempengaruhi.Yang mana tidak diketahui mana variable independent dan dependen.Contoh:
    1) Hubungan antara motivasi dengan prestasi. Disini dapat dinyatakanmotivasi mempengaruhi prestasi dan juga prestasi mempengaruhimotivasi.
    2) Hubungan antara kecerdasan dengan kakayaan. Kecerdasan dapatmenyebabkan kaya, demikian juga orang kaya dapat meningkatkankecerdasan karena gizi terpenuhi. (Halaman 37)
     
    Variabel Penelitian

    1. Pengertian

           Kalau ada pertanyaan apa yang sedang diteliti, maka jawabannyaberkenaan dengan variable penelitian. Jadi variable penelitian pada dasarnyaadalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh penelitiuntuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudianditarik kesimpulannya.Secara teoritis variable dapat didefinisikan sebagai atribut seseorangatau objek, yang mempunyai “variasi” antara satu orang dengan orang yanglain. Atau satu objek dengan objek yang lain (Hatch dan Farhady, 1981).Variable dapat juga merupakan atribut dari budang keilmuan atau kegiatantertentu. Tinggi, berat badan, sikap, motivasi, kepemimpinan, disiplin kerjamerupakan atribut-atribut dari setiap orang.Dinamakan variable karena adanya variasi. Misalnya berat badandapat dikatakan variable, karena berat badan sekelompok orang itu bervariasiantara yang satu dengan yang lain. Jadi kalau peneliti ingin memilih variablepenelitian, baik yang dimiliki orang objek, maupun bidang kegiatan dankeilmuan tertentu, maka harus ada variasinya. Variable yang tidak adavariasinya bukan dikatakan sebagai variable. Untuk dapat bervariasi, makapenelitian harus didasarkan pada sekelompok sumber data atau objek variasi Kerlinger (1973) menyatakan bahwa variabel adalah konstruk atausifat yang akan dipelajari. Misalnya tingkat aspirasi, penghasilan, pendidikanstatus sosial, jenis kelamin, golongan gaji produktivitas kerja dll. Dibagianlain Kerlinger menyatakan bahwa variabel dapat dikatakan sebagai suatu sifatyang diambil dari suatu nilai yang berbeda, dengan demikian variabel itumerupakan suatu yang bervariasi. Selanjutanya Kidder (1981) menyatakanbahwa variabel adalah suatu kualitas dimana peneliti mempelajari danmenarik kesimpulan darinya.Dari pengertian-pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa variabelpenelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek ataukegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. (Halaman 38)
     
    2. Macam-macam Variabel
    Menurut hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lainmaka macam-macam variabel dalam penelitian dapat dibedakan menjadi :
    a. Variabel Independen
    Variabel ini sering disebut sebagai variabel stimulus, prediktor,antecedent. Dalam bahasa Indonesia sering disebut sebagai variabel bebas.Variabel bebas adalah merupakan variabel yang mempengaruhi atau yangmenjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen. Sering disebut sebagai variabel output, kriteria, konsekuen. Dalam bahasaIndonesia sering disebut sebagai variabel terikat. Variabel terikatmerupakan variabel yang diakibat karena adanya variabel bebas.
    screenshot_8
    b. Variabel Moderator
    Adalah variabel yang mempengaruhi (memperkuat dan memperlemah)hubungan antara variabel independen dengan dependen. Variabel disebut juga sebagai variabel independen ke dua. Hubungan perilaku suami dan istri akan semakin baik (kuat) kalau mempunyai anak, dan akan semakin renggang kalau ada pihak ketiga ikut mencampuri. Disini anak
    c. Variabel Dependen
    adalah sebagai variabel moderator yang memperkuat hubungan, dan pihak ketiga adalah sebagai variabel yang memperlemah hubungan. Hubunganmotivasi dan produktivitas kerja akan semakin kuat bila perananpemimpin dalam menciptakan iklim kerjasangat baik, dan hubungan akansemakin rendah bila peranan pemimpin kurang baik dalam menciptakaniklim kerja. (Halaman 39)
    (Sumber:Dr. Sugiyono, Metode penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R & D,Alfabeta, Bandung, 2008)

Tumbuh dan Berkembangnya Konsep Teknologi Pendidikan

Tumbuh dan berkembangnya suatu konsep tidak akan terlepas dari konteks dimana konsep itu dapat tumbuh, serta apa dan bagaimana awal perkembangan konsep itu sendiri. Misalnya konsep “sekolah” yang merupakan lembaga khusus untuk menyelenggarakan pendidikan akan dapat tumbuh bilamana konteks masyarakat memungkinkannya (adanya kebutuhan yang dirasakan oleh anggota masyarakat, adanya tenaga professional yang mengelola dsb.). Dalam bahasa keseharian, konteks dapat dianalogikan dengan “lahan”, dan awal konsep rumusan konsep dianalogikan dengan “benih”. Sehingga lahan yang masih kosong dapat ditumbuhkan benih di dalamnya. Setiap konsep tentu memerlukan “istilah” atau “nama” yang diciptakan sebagai lambang untuk mengidentifikaksi konsep yang dimaksud (seperti misalnya istilah “sekolah”), dan untuk mengkomunikasikan gagasan yang ada di dalamnya. Istilah itu harus menunjukkan “gagasan” yaitu gambaran mental mengenai sesuatu gejala, dan harus pula mewakili adanya sejumlah “rujukan” yaitu gejala konkrit yang dapat dikenal dengan penginderaan. Sedangkan gagasan mengarahkan (memberikan batasan) pada sejumlah kenyataan yang terdapat dalam rujukan. Oleh Ogden dan Richard seperti dikutip Mayer dan Greenwood (1984) konsep itu dijelaskan dengan segitiga acuan yang digambarkan sebagai berikut :

screenshot_5

Istilah “sekolah” menunjukkan gagasan adanya kegiatan pendidikan yang terstruktur dan diselenggarakan secara profesional. Istilah itu mewakili sejumlah rujukan yang terdiri atas gedung dengan segala fasilitasnya (kursi, meja, papan-tulis dsb.), siswa, guru, pengelola (kepala sekolah), tenaga tatausaha, kurikulum, proses belajar pembelajaran, dana operasional dll. Gagas an itu sendiri mengacu pada sejumlah rujukan yang telah diidentifikasi mewakili istilah. Dalam makalah ini akan dibahas konteks tumbuhnya konsep teknologi pendidikan dengan membahas perkembangan pendi dikan dan teknologi, dilanjutkan dengan pembahasan perkembangan konsep teknologi pendidikan itu sendiri dimancanegara dan Indonesia.

Perkembangan Pendidikan

Pendidikan telah berlangsung sejak awal peradaban dan budaya manusia. Bentuk dan cara pendidikan itu telah mengalami perubahan, sesuai dengan perubahan zaman dan tuntutan kebutuhan. Pada awal perdabaan, para orangtua bersama kelompoknya bertanggung jawab dalam mendidik anak-anak mereka hingga mencapai kedewasaan. Bila orangtua atau keluarganya hidup dengan bertani, maka anak-anaknya juga diajar bertani melalui pengalaman langsung. Demikian juga kalau orangtuanya berdagang, maka anak-anaknya juga diajar berdagang. Pada masa itu belum ada program pendidikan yang dilaksanak an di luar lingkungan keluarga atau kelompok oleh orang-orang di luar keluarga/kelompok, atau pendidikan yang terstruktur. Kapan pendidikan yang terstruktur mulai dilaksanakan, dan apa tujuan dan caranya ? Tidak ada yang dapat memastikan kapan pendidikan terstruktur dimulai. Dokumen tertulis mengenai perkem bangan pendidikan sejak awal peradaban lebih banyak berdasarkan pendapat para sejarawan yang mengkaji perkembangan kebudayaan Barat. Dalam kurun waktu yang berbeda beberapa penulis seperti Thomson (1951), Saettler (1968), Ashby (1972), serta Ornstein dan Levine (1981) bependapat tentang awal pendidikan terstruktur dimulai pada sekitar tahun 500 SM oleh kaum Sufi (Sophist). Mereka ini disebut sebagai “penjaja pengetahuan” (knowledge peddlers– Saettler), atau “guru pengelana” (wandering teachers– Ornstein & Levine),karena mereka menawarkan pendidikan secara berkeliling, dan tidak menenetap disuatu tempat. Oleh Ashby, berlangsungnya pendidikan yang dilaksanakan oleh kaumSufi itu dinyatakan sebagai terjadinya revolusi pertama dalam bidang pendidikan.Revolusi ini terjadi dengan diserahkannya pendidikan anak dari orangtua kepada orang lain yang berprofesi sebagai “guru”. Beberapa tokoh “guru pengelana” tersebut adalah Socrates (469 – 399 SM), Plato (439 – 347 SM), dan Aristoteles (384 – 322 SM). Socrates diketahui sebagai seorang filsuf yang mengajarkan bagaimana cara memperoleh kebenaran, keindahan dan kebajikan. Cara mengajar terutama dilakukan dengan dialog lisan berdasarkan suatu masalah yang ada dalam kehidupan keseharian. Dengan dialog tersebut pada akhirnya akan dapat diperoleh hakekat tentang kebenaran, keindahan dan kebajikan. Cara dialog sampai sekarang masih banyak digunakan, dan bahkan seringkali disebut sebagai metode Socratic. Salah seorang murid Socrates yang terkenal adalah Plato. Kalau Socrates mengajar secara lisan dengan dialog, Plato menulis buku Protagoras, Republic, dan Laws. Plato berpendapat bahwa kebenaran, kebajikan, keindahan dan keadilan adalah bersifat universal. Karena kebenaran itu bersifat universal, maka pendidikanpun harus  bersifat universal. Kenyataan hanya dapat dipahami melalui intelektualitas, karena itu pendidikan harus menekankan pada pengembangan intelektualitas. Kesempatan mengikuti pendidikan yang diselenggarakan oleh Plato terbatas pada mereka yang mempunyai intelektualitas terpilih. Pendidikan ini dilaksanakan secara berjenjang, mulai dengan belajar musik, membaca, menulis dan senam. Setelah itu sastra dan atletik (untuk menanamkan disiplin dan karakter). Pada jenjang terakhir mempelajari matematik, geometri, astronomi, dan metafisika. Menurut pendapat Plato manusia akan dianggap baik dan terhormat apabila perilakunya sesuai dengan konsep ideal tentang kebajikan dan keadilan. Salah seorang murid Plato yang terkenal adalah Aristoteles. Aristoteles ini juga dikenal sebagai tutor raja Iskandar Agung (Alexander the Great). Dia mendirikan lembaga pendidikan yang disebut Lyceum. Kecuali itu ia banyak menulis buku dalam berbagai subyek seperti fisika, astronomi, zoology, boani, logika, etika, dan metafisika. Manusia dianggapnya sebagai mahluk yang rasional, karena itu mempunyai kemampuan untuk mengamati dan memahami hukum alam yang mengatur kehidupan. Manusia yang terdidik mampu menerapkan pikirannya dalam perilaku etik dan politik. Tujuan hidup manusia adalah kebahagiaan, dan karena itu kehidupan yan baik adalah keselarasan. Aristoteles menekankan perlunya pendidikan sebagai landasan perkembangan kebudayaan. Kalau pendidikan diabaikan, maka masyarakat akan terpuruk. Oleh karena itu dia menganjurkan adanya kewajiban bersekolah. Isi pelajaran di sekolah tidak jauh berbeda dengan pendapat gurunya, Plato. Ke tiga tokoh yang disebut di muka, dapat dikatakan para pendahulu (nenek-moyang) pendidikan. Perkembangan budaya selanjutnya telah melahirkan pendidikan yang lebih terstruktur dalam bentuk sekolah dengan kurikulum tertentu. Berikut ini ditampilkan beberapa tokoh pendidikan dengan berbagai gagasan dan konsep yang mereka kemukakan. Tokoh-tokoh ini sengaja dipilih karena dalam pembahasan kemudian dapat dianggap bahwa gagasan dan konsepnya dapat dianggap sebagailahan persemaian pembaharuan pendidikan, atau tumbuhnya bidang-bidang spesialisasi baru dalam pendidikan termasuk teknologi pendidikan. Pembahasan tentang tokoh-tokoh ini lebih banyak didasarkan pada buku Ornstein dan Levine. Jan Komensky (Comenius 1592 –1970) seorang pendidik yang berasal dari Moravia, dan memperoleh pendidikan tinggi di Jerman. Lomensky berpendapat bahwa :
1.  lingkungan sekolah harus didasarkan pada prinsip pertumbuhan dan perkembangan anak secara wajar, dengan memperbolehkan berbagai kegiatan yang sesuai. 2. pengajaran harus berlangsung dalam suasana yang menyenangkan, antara lain dengan  menggunakan bahasa yang dikenal dan mempresentasikan obyek yang dikenal pula. Pendapatnya ini antara lain diwujutkan dengan ditulisnya bukau Orbis Sensalium Pictus (Dunia dalam Gambar). Buku tersebut lebih banyak merupakan buku pelajaran bahasa, dengan memberikan rangsangan visual berupa gambar (misalnya gambar seseorang sedang memancing ikan) dengan penjelasan atas masing-masing obyek dalam gambar tersebut dengan istilah Latin dan bahasa keseharian. Perlu diperhatikan bahwa Komensky menekankan pada perlunya ada rangsangan indera untuk belajar.Jean Jacques Rousseau (1712 – 1778) adalah seorang ilmuwan dan politisi Perancis kelahiran Swiss, yang banyak menaruh perhatian pada filsafat sosial dan pendidikan. Rousseau dikenal dengan suatu buku novel yang ditulisnya dengan judul Emile. Dalam buku itu dituliskan gagasan dan penda-patnya. Dia berpendapat antara lain bahwa masyarakat telah memenjarakan anggotanya melalui serangkaian lembaga. Anak-anak harus dibebaskan dari penjara yang paling menekan, yaitu sekolah yang mengharuskan anak untuk menerima gagasan, kebiasaan dan perilaku yang telah ditentukan sebelumnya. Lingkungan alam merupakan guru paling baik. Pengetahuan berkembang melalui penginderaan dan perasaan. Oleh karena itu Rousseau menganjurkan adanya kebebasan dan kemajuan, semua aturan yang membatasinya harus ditiadakan. Johann Pestalozzi (1747 – 1827) adalah seorang pendidik Swiss yang pendapatnya cenderung mendukung Rousseau. Dia sependapat dengan Rousseau bahwa pada hakekatnya semua manusia itu terlahir dengan baik, tetapi dapat rusak tertular oleh masyarakat yang koruptif, yang tercermin antara lain dengan sekolah tradisional yang membosankan dengan hanya menekankan pada pengulangan dan penghafalan. Sekolah tradisional harus dirombak; perombakan ini akan mampu menjembatani perubahan social. Belajar menurut Pestalozzi terjadi karena adanya rangsangan penginderaan. Ia juga berpendapat bahwa pembelajaran harus mengikuti perkembangan alamiah : konkrit ke abstrak, lingkungan dekat ke jauh, mudah ke sukar, gradual dan kumulatif. Friedrich Froebel (1782 – 1852) merupakan seorang pendidik Jerman yang sangat dikenal dengan konsep pendidikan bagi anak usia dini yang disebut“kindergarten”. Yang agak mengherankan kita adalah bahwa Froebel memulai karirnyasebagai seorang rimbawan, kimiawan, dan kemudian sebagai kurator musem, sebelum akhirnya terjun dalam dunia pendidikan. Sejalan dengan Pestalozzi, Froebel menekankan pada perlunya perubahan dalam cara mengajar. Cara mengajar yang sebaiknya adalah yang berbasis pada aktivitas diri, karena itu perlu diciptakan dan dikelola lingkungan yang sesuai (termasuk bermain, menyanyi, menggambar, berkarya dsb. pada saat anak mulai mengikuti pendidikan). Kecuali itu pendidikan harus berlangsung dengan memperhatikan harga-diri siswa, dan dengan memberikan contoh mengenai nilai-nilai luhur yang perlu dijunjung. Johann Herbart (1776 – 1841) adalah seorang filsuf Jerman yang dikenal dengan kontribusinya dalam bidang pendidikan moral dan metodologi pembelajaran. Menurut Herbart, tujuan akhir pendidikan adalah perkembangan moral. Manusia pada dasarnya merupakan mahluk yang baik, tetapi kalau moral dan pengetahuannya tidak dikembangkan, maka mereka cenderung membuat kesalahan. Oleh karena itu ada dua kelompok ajaran yang perlu diberikan adalah pengetahuan dan etika. Proses pendidikan menurut Herbart sebaiknya berlangsung dalam lima tahap : persiapan, presentasi, asosiasi, sistematisasi, dan aplikasi. Proses ini juga berlaku untuk pendidikan guru; setiap guru perlu mampu menjawab pertanyaan : Apa yang telah diketahui oleh siswa ? Pertanyaan apa yang seharusnya saya ajukan ? Peristiwa apa yang harus saya kaitkan ? Kesimpulan apa yang harus ditarik ? Bagaimana siswa menerapkan apa yang telah mereka pelajari ? erbert Spencer (1820 – 1903) adalah seorang teoritisi social Inggris yang mencoba menyesuaikan teori evolusi biologis dari Darwin dengan teori sosiologi dan pendidikan. Spencer berpendapat bahwa manusia berkembang melalui serangkaian tahapa evolusi, mulai sederhana menjadi kompleks, dari seragam menjadi beragam. Masyarakat yang semula cenderung homogen, berkembang menjadi masyarakat yang kompleks yang ditandai dengan beragamnya tugas dan tanggungjawab yang menuntut keahlian yang sesuai. Karena itu pendidikan harus dikembangkan sesuai dengan bakat dan tuntutan lingkungan. Menurut pendapatnya, individu yang paling kuat dalam satu generasi akan selamat (survival of the fittest), oleh karena itu pendidikan harus dikembangkan manusia mampu bertahan hidup, mampu menguasai kegiatan secara efisien, dan mampu meningkatkan efektivitas kinerja dalam hidup. John Dewey (1859 – 1952) dianggap sebagai Bapak pendidikan Amerika Serikat. Sebelumnya, praktek pendidikan di AS didasarkan pada konsep dan gagasan yang dilahirkan oleh ahli-ahli dari Eropa. Menurut Dewey, pendidikan merupakan prosessosial dimana anggota masyarakat yang belum matang (terutama anak-anak) diajak ikut partisipasi dalam masyarakat. Tujuan pendidikan adalah memberikan kontribusi dalam perkembangan pribadi dan sosial seseorang, melalui pengalaman dan pemecahan masalah yang ber-langsung secara reflektif. Dewey juga terkenal dengan metode ilmiah yang dikenal dengan metode reflektif (reflective method). Metode itu berlangsung dengan langkah-langkah berikut : 1) Pemelajar (learner) mempunyai peng-alaman langsung dari keterlibatannya dalam suatu kegiatan yang diminati; 2) Berdasarkan pengalaman tersebut pemelajar mempunyai masalah khusus yang merangsang pikirannya; 3) Pemelajar mempunyai atau mencari informasi yang diperlukan untuk memecahkan masalah tersebut; 4) pemelajar mengembangkan berbagai kemungkinan dan solusi tentatif untuk memecahkan masalah; dan 5) Pemelajar menguji kemungkinan dengan jalan menerapkannya untuk memecakan masalah. Dan dengan demikian pemelajar akan menemukan sendiri keabsahan temuannya. Ivan Illich (1926 – 1990) adalah seorang imam Katolik yang semula bertugas membina umat pastoral warga Puerto Rico di kota New York. Ia merupakan kritikus pendidikan yang dianggap radikal. Sewaktu dia bertugas di Mexico, dia meluncurkan pendapatnya tentang masyarakat bebas sekolah (deschooling society). Menurut pendapatnya, selama ini pendidikan di sekolah telah membelenggu perkembangan pribadi dan masyarakat, oleh karena itu kalau masyarakat mau maju harus dibebaskan dari sekolah, masyarakat akan berkembang melalui jaringan belajar. Belajar berlangsung sepanjang hayat, karena itu mitos bahwa belajar hanya berlangsung disekolah adalah keliru. Belajar yang sebenarnya berlangsung lebih banyak di luar sekolah dan tanpa arahan guru. Obyek untuk pendidikan atau sumber untuk memperoleh pengetahuan adalah perpustakaan, laboratorium, workshops, galeri seni, dan lain-lain dimana ada tempat dan sarana yang memungkinkan untuk belajar. Paulo Freire ( ? – 1997) adalah seorang ahli pendidikan Brazilia, dan pernah menjabat sebagai sekretaris Departemen Pendidikan Kota Sao Paolo. Dalam posisinya 6 itu dia telah berusaha menerapkan teori dan konsep pendi-dikannya, yang banyak menghadapi tantangan dari mereka yang berpandangan konservatif. Menurut Freire pendidikan adalah usaha memanusiakan manusia, tujuan pendidikan adalah pembebasan yang permanen. Pembebasan permanen ini berlangsung dalam dua tahap :

pertama tahap kesadaran akan penindasan, dan kedua membangun kemantapan dengan aksi budaya yang membebaskan. Untuk itu semua pihak harus berpartisipasi dalam pendidikan. Freire sangat prihatin dengan makin lebarnya kesenjangan antara yang kaya dan miskin. Sementara itu dia menga mati bahwa sekolah telah menjadi elitis, dan terisolasi dengan masyarakat. Prinsip dasar pendidikan menurut Freire adalah belajar bertolak dari realitas yang nyata, kemudian dibawa dalam program pembelajaran, dan akhirnya kembali ke realitas nyata dengan praksis baru. Ki Hajar Dewantara (1889 – 1959) seorang tokoh pendidikan Indonesia yang memprakarsai berdirinya lembaga pendidikan Taman Siswa. Dia lebih terkenal dengan filsafat pendidikannya “tut wuri handayani, ing madya mangun karsa, ing ngarsa sungtulada”. Dewantara mengklasifikasikan tujuan pendidikan dengan istilah “tri-nga” (tiga“nga” – “nga” adalah huruf terakhir dalam abjad Jawa Ajisaka). “Nga” pertama adalah“ ngerti” (memahami atau aspek intelektual), “nga” kedua “ngrasa” (merasakan atau aspek afeksi), dan “nga” ketiga adalah “nglakoni” (mengerjakan atau aspek psikomotorik). Rumusan ini telah dilakukan sekitar 20 tahun sebelum Bloom dkk. merumuskan taksonomi tujuan pendidikan yang meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotor. Menurut Dewantara, adalah hak tiap orang untuk mengatur diri sendiri, oleh karena itu pengajaran harus mendidik anak menjadi manusia yang merdeka batin, pikiran dan tenaga. Pengajaran jangan terl
ampau mengutamakan kecerdasan pikiran karena hal itu dapat memisahkan orang terpelajar dengan rakyat. Mohammad Syafei (1896 – 1969) seorang tokoh pendidikan yang mendirikan sekolah Kayutanam di Sumatera Barat. Dasar pendidikan menurut Syafei adalah :
berpikir secara logis dan rasional dan meninggal kan cara berpikir mistik dan takhayul; isi pendidikan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat; dan kegunaan hasil pendidikan untuk kemajuan masyarakat. Pendidikan harus berhasil menanamkan rasa percaya diri dan berani bertanggung jawab. Menurut Syafei masyarakatlah yang menilai lulusan dan memberikan “ijazah” atau pengakuan, jadi tidak perlu mengikuti aturan pemerintah (zaman penjajahan Belanda) yang mendidik secara elitis untuk kepentingan penjajahan. Teori, konsep dan prinsip pendidikan yang telah diungkapkan di atas, menunjukkan adanya sejumlah masalah pendidikan yang telah ada sejak ratusan tahun sebelum Masehi, yang sampai sekarang belum terpecahkan. Hal inilah yang merupakan lahan untuk tumbuhnya pemikiran dan gerakan baru.

Perkembangan Teknologi

Menurut Iskandar Alisyahbana (1980) teknologi telah dikenal manusia sejak jutaan tahun yang lalu, karena dorongan untuk hidup yang lebih nyaman, lebih makmur dan lebih sejahtera. Jadi sejak awal peradaban, sebenarnya telah ada teknologi, meskipun istilah “teknologi” belum digun akan. Istilah “teknologi” berasal dari “techne”atau cara dan “logos” atau pengetahuan. Jadi secara harfiah teknologi dapat diartikan dengan pengetahuan tentang cara. Pada awal peradaban misalnya, manusia memasak makanan dengan memanggang di atas api kayu bakar. Kemajuan peradaban kemudian dilakukan pemanggangan dengan api arang, dengan api kompor minyak tanah, kompor gas, kompor listrik dan oven microwave. Perkembangan ini menunjukkan teknologi dengan sarana yang berbeda dalam memproses makanan. Mangun (sebutan popular dari Y. B. Mangunwijaya ;1983) mengutip pendapat John Kenneth Galbraith yang memberi arti teknologi sebagai penerapan sistematis dari pengetahuan ilmiah atau pengetahuan yang teratur untuk tugas-tugas yang praktis. Sumitro Djojohadikusumo yang juga dikutip Romo Mangun, mengartikan hakekat teknologi sebagai pengetahuan yang sistematik disertai dengan penerapan hasil pengetahuan sebagai kegiatan dalam perkembangan masyarakat.

Association for Education Communication and Technologi/AECT, 1986 Mendefinisikan Teknologi Pendidikan sebagai berikut: “Teknologi pendidikan merupakan proses kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosudur, gagasan, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, menacari jalan pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengelola pemecahan masalah yang menyangkut semua aspek belajar manusia”. Sedangkan Finn dikutip dengan pernyataannya bahwa “Teknologi mencakup proses, sistem, pengelolaan dan mekanisme kontrol, baik yang mengangkut manusia maupun bukan manusia, dan lebih dari itu adalah merupakan suatu cara memandang permasalahan ditinjau dari sudut kepentingan, kesulitan, kelayakan teknis pemecahannya, dan nilai ekonomi.” Teknologi merupakan sistem yang diciptakan oleh manusia untuk sesuatu tujuan tertentu. la merupakan perpanjangan dari kemampuan manusia. la dapat kita pakai untuk menambah kemampuan kita menyajikan pesan, memproduksi barang lebih cepat dan.lebih banyak, memproses data lebih banyak, memberikan berbagai macam kemudahan, serta untuk mengelola proses maupun orang.
Teknologi dapat dibedakan menjadi dua macam. Yang pertama dan yang lazim kita kenal adalah teknologi fisik atau mekanik yang ditandai oleh mesin, alat dan perangkatnya. Yang kedua kurang sekali di kenal sebagai teknologi, yaitu teknologi sosial yang merupakan tatanan atau acuan yang ditetapkan oleh orang lain dalam mengorganisasikan manusia dan lingkungan-nya, serta hal-hal yang mengatur tugas, fungsi, wewenang dan kekuasaan. Teknologi tidak mengandung nilai dalam dirinya sendiri; semuanya tergantung bagaimana manusia merancangnya, memanfaatk annya, dan menerimanya. Teknologi yang berhasil memperingan kerja badan manusia, dilain pihak dapat menyebabkan pengangguran dan kejemuan kerja. Teknologi kedokteran yang berhasil mengurangi angka kematian serta memperpanjang usia manusia, dapat menyebabkan kesulitan mencari makan dan timbulnya kesulitan hidup pada usia lanjut. Teknologi, karena sifatnya, mencampuri (mengintervensi) urusan manusia dengan 1ingkungannya, serta secara konseptual mencampuri peranan orang daiam dunianya. Keberhasilan atau kegagalan orang dalam dunia yang digelutinya dapat disebabkan oleh teknologi yang dipakai atau dihadapinya. Jadi nilai segala bentuk teknologi tergantung pada kegunanaannya bagi umat manusia serta akibatnya bagidiri dan lingkungannya. Dengan mengambil analogi dari bidang industri barang dan jasa, dapat kita ketahui bahwa penerapan teknologi telah memungkinkan produksi lebih banyak, dengan kualitas yang lebih baik, dan biaya satuan produksi yang lebih rendah. Namun hal itu dicapai secara kolektif (tidak individual), dengan adanya pembagian tanggung jawab, diversifikasi peranan, perencanaan yang cermat, yang semuanya mengacu pada totalitas produksi yang lebih ekonomis. Memang perkembangan itu juga membawa korban dengan digantikannya tenaga kerja manusia yang kurang efisien dengan mesin. Namun perlu diingat bahwa tenaga kerja yang digantikan itu adalah yang kurang serasi dengan keseluruhan proses produksi dan yang secara ekonomis kurang bermanfaat untuk dilatih-ulang. Butir-butir pelajaran yang terkandung dalam teknologi dapat disimpulkan meliputi hal-hal berikut :
1. Diperlukan pendekatan yang bersistem secara menyeluruh. Tidak hanya sistem mikro yang diperhatikan, namun juga sistem meso dan makro. Tiap sistem merupakan bagian dari sistem yang lebih luas (sistem jantung merupakan bagian dari sistem peredaran darah, yang merupakan bagian dari sistem tubuh).
2. Perlu adanya diversifikasi tanggung jawab dan bersamaan dengan itu adanya spesialisasi yang senantiasa ditingkatkan. Sebelum digunakan teknologi masing-
masing unit boleh dikatakan mempunyai tanggung jawab yang sama dan seragam, namun setelah digunakan teknologi tanggung jawab itu menjadi berbeda. Sejalan dengan perbedaan tanggung jawab itu diperlukan adanya spesialisasi yang semakin lama semakin tajam.
3. Perlu ada koordinasi yang baik dalam artian waktu dan gerak. Ada hubungan antar komponen, ada kesinambungan dalam tatakerja, dan ada ketergantungan satu sama lain. Dengan koordinasi yang baik, maka pengawasan dapat pula , dilakukan dengan baik. Mata rantai yang kurang berfungsi dapat segera diketahui dan dilakukan perbaikan terhadapnya. Koordinasi ini makin mengarah pada skala yang lebih besar dan lebih kompleks.
4. Perlu adanya disiplin yang tinggi, terlebih lebih disiplin internal yang didasarkan pada rincian tugas dan tanggung jawab yang telah ditentukan dan/atau telah disepakati. Disiplin ini pada awalnya mungkin perlu dipaksa-kan dari luar, atau dilakukan dengan pengawasan yang ketat. Pengawasan ini terus diperlukan meskipun telah terbentuk disiplin internal, namun dengan tingkat keketatan yang berbeda.
5. Perlu adanya pengelolaan yang lebih terbuka dan tidak birokratis. Ciri pengelolaan ini adalah berkurangnya hirarki, bertambahnya ketangkasan, pendelegasian wewenang lebih besar, ketergantungan lebih besar pada informasi, dan bertambahnya kreativitas dan inovasi. Butir-butir tersebut di atas tidak merupakan daftar yang tuntas, lagipula tidak merupakan butir-butir lepas yang berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan dan ada kalanya tumpang tindih. Teknologi memang belum dapat kita man-faatkan sedemikian rupa sehingga timbul penemuan sosial (social invention), meskipun teknologi itu telah menghasilkan perubahan sosial. Dengan demi-kian teknologi itu tidak dapat dituntut tanggung jawabnya bila terjadi sesuatu akibat negative; manusia pengembang dan pengguna teknologilah yang harus bertanggung jawab.

Perkembangan Awal Teknologi Pendidikan

Teknologi Pendidikan sebagai suatu disiplin keilmuan, pada awalnya berkembang sebagai bidang kajian di Amerika Serikat. Meskipun demikian menurut beberapa penulis Amerika Serikat diakui bahwa para pendahulu atau nenek moyang(forefathers) teknologi pendidikan kebanyakan berasal dari luar Amerika Serikat. Kalau kita berpegangan kepada konsep teknologi sebagai cara, maka awal perkembangan teknologi pendidikan dapat dikatakan telah ada sejak awal peradaban, dimana orangtua mendidik anaknya dengan cara memberikan pengalaman langsung serta dengan memanfaatkan lingkungan. Saettler berpendapat bahwa sumber tumbuhnya teknologi pendidikan dapat ditelusuri sampai kaum Sufi, dengan cara mereka “menjajakan pengetahuannya.” Bahkan menurutnya cara dialog seperti dilakukan oleh Socrates sampai sekarang masih digunakan sebagai metode pemecahan masalah (problem-solving method). Secara eksplisit Saettler menganggap bahwa Komensky merupakan pionir teknologi pendidikan dengan pendapat perlunya visualisasi dalam pengajaran, yang tertuang dalam bukunya Orbis Sensalium Pictus. Demikian juga dengan Rousseau, Pestalozzi, Froebel yang menekankan perlunya rangsangan indera untuk meningkatkan efektivitas belajar. Prosedur pengajaran yang dinyatakan oleh Herbart, juga dapat dikatakan sebagai awal dari apa yang kita kenal sekarang sebagai desain pembelajaran. Pemuka pendidikan lain juga dapat dianggap memberikan kontribusi tumbuhnya teknologi pendidikan, seperti misalnya heterogenitas pemelajar yang perlu dilayani dengan program pendidikan yang sesuai (sekarang berkembang menjadi belajar individual dan bebas), cara belajar aktif, belajar dari lingkungan (sekarang dikembangkan menjadi belajar berbasis aneka sumber), kebebasan dalam belajar (sekarang menjadi belajar terbuka), belajar memecahkan masalah (sekarang
berkembang menjadi belajar berbasis masalah), serta adanya partisipasi dari wargamasyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan. Gerakan untuk mengembangkan teknologi pendidikan sebagai bidang kajian di Amerika Serikat dimotori oleh James D.Finn (1915 – 1969), seorang Gurubesar tetap dalam bidang pendidikan di University of Southern California (USC), dan Guru besar 10 tamu di Michigan State dan Syracuse University. Finn dianggap sebagai “Bapak” teknologi pendidikan. Karya-karya terpilihnya sejak tahun 1949 hingga 1969 dihimpun oleh Ronald J. McBeath dalam buku Extending Education Through Technology – suatu referensi klasik yang diterbitkan oleh AECT pada tahun 1972. Pembahasan dalam makalah ini merupakan rangkuman dari pendapat James D.Finn yang dihimpun oleh Ronald J. McBeath, buku Paul Saettler ‘The History of Educational Technology” (1968), laporan hasil kajian team AECT untuk perumusan definisi teknologi pendidikan yang dipimpin oleh Dr. Kenneth H. Silber yang diterbitkan oleh AECT “The Definition of Educational Technology” (1977), buku yang diterbitkan AECT “Instructional Technology : The Definition and Domains of the Field ” (1994) dan ditulis oleh Barbara B. Seels dan Rita C.Richey sebagai hasil rumusan dari Komisi Definisi dan terminology AECT, serta tulisan Alan Januszewski dalam bukunya“Educational Technology The Development of a Concept” (2001) Menurut Finn, tahun 1920an adalah awal perkembangan teknologi pendidikan. Istilah dan definisi formal pertama yang berhubungan dengan teknologi pendidikan pada saat itu adalah “pengajaran visual”. Yang dimaksud dengan pengajaran visual adalah kegiatan mengajar dengan menggunakan alat bantu visual yang terdiri dari gambar, model, objek atau alat-alat yang dipakai untuk menyajikan pengalaman konkrit melalui visualisasi kepada siswa. Tujuan penggunaan alat bantu visual adalah untuk :
1) memperkenalkan , menyusun, memperkaya atau memperjelas konsep-konsep yang abstrak,
2) mengem-bangkan sikap yang diinginkan, dan
3) mendorong timbulnya kegiatan siswa lebih lanjut.
Alat bantu visual umumnya diklasifikasikan mulai dari tingkat kekonkritannya sampai dengan tingkat yang makin abstrak. Aliran pengajaran visual disamping berusaha membuat konkrit konsep yang abstrak juga menambahkan dua gagasan tambahan yang masih bermanfaat hingga sekarang. Yang pertama adalah gagasan untuk meng-klasifikasikan jenis alat-alat bantu visual, dan yang kedua menekankan pentingnya pengintegrasian bahan visual ke dalam kurikulum, dan bukannya dipakai secara terpisah-pisah. Kelemahan aliran tersebut adalah karena hanya mengutamakan bahan itu sendiri, dan kurang memperhatikan desain, pengembangan, produksi, evaluasi dan pengelolaan bahan itu. Kegiatan-kegiatan tersebut bukannya tidak dipertim-bangkan, melainkan dianggap kurang penting, karena perhatian dipusatkan kepada bahan itu sendiri. Kelemahan lain adalah adanya anggapan bahwa bahan visual merupakan “alat bantu” dan bukan merupakan suatu yang mampu membawakan unit ajaran itu sendiri. Dengan timbulnya rekaman suara dan film bersuara, aliran pengajaran visual diperluas dengan menambahkan suara, sehingga berkembang menjadi pengajaran audio-visual yang merujuk pada beberapa macam perangkat keras yang dipakai guru untuk menyampaikan gagasan dan pengalaman melalui mata dan telinga. Sekalipun pembelajaran audiovisual menambahkan komponen audio ke dalam aliran pengajaran visual, namun penambahan konseptual hanya sedikit. Aliran ini tetap mempertahankan rentangan (continuum) abstrak konkrit (dengan bahan audiovisual pada ujung yang lebih konkrit) serta mengklasifikasikan jenis pengalaman. Penuangan konsep yang paling nyata terdapat dalam Cone of Experience (Kerucut Pengalaman) oleh Edgar Dale 11 pada tahun 1954. Aliran ini juga masih menekankan bahwa bahan audiovisual perlu diintegrasikan ke dalam kurikulum.Aliran pengajaran audiovisual juga masih mengandung dua kelemahan yang terdapat pada aliran yang mendasarinya, yaitu lebih menaruh perhatian kepada bahan daripada proses pengembangan bahan itu, dan tetap meman-dang bahan audiovisual sebagai alat bantu guru dalam pengajaran. Meskipun demikian, penelitian tentang efektivitas bahan audiovisual serta jenis bahan mana yang paling efektif untuk keperluan pengajaran mulai banyak dilakukan. Pada akhir Perang Dunia II, mulai timbul suatu kecenderungan baru dalam bidang audiovisual ke arah dua kerangka konseptual baru yang paralel, yaitu teori komunikasi dan konsep sistem awal. Orientasi teknologi pendidikan pada komunikasi, mengubah kerangka teori bidang itu. Perhatian tidak lagi dipusatkan kepada “benda benda”, melainkan kepada seluruh proses komunikasi informasi mulai dari sumber (baik itu guru maupun bahan) sampai ke penerima atau sasaran (si-belajar). Untuk dapat menggambarkan seluruh proses ini, orientasi komunikasi menambahkan konsep kedua yang dapat diterapkan pada definisi yang berlaku pada waktu itu, yaitu pemanfaatan model yang dinamis. Model yang diciptakan teoritisi komunikasi merupakan model proses yang dinamis, yaitu menunjukkan unsur-unsur yang terlibat dalam proses itu dan saling hubungan di antaranya. Jadi melibatkan lebih banyakkomponen dari pada sekedar bahan yang dipakai untuk menyajikan pesan. Sementara transisi dari pengajaran audiovisual ke komunikasi berlangsung, secara paralel berlangsung pula transisi lain yang terpisah namun ada kaitannya, yaitu perkembangan ke konsep sistem awal. Suatu sistem dapat didefinisikan sebagai rangkain komponen-komponen yang mempunyai tujuan tertentu. Arti penting dari sistem adalah pengertian adanya :
a) komponen-komponen dalam sistem
b) integrasi kompornen-kompcnen itu, dan
c) peningkatan efisiensi sistem. Konsep sistem dalam teknologi pendidikan menganggap sistem sebagai produk yang lengkap, tersusun dan terintegrasi sedemikian rupa hingga memung kinkan terjadinya pembelajaran.
Usaha untuk merumuskan definisi teknologi pendidikan secara terorganisasikan dimulai pada tahun 1960. Hingga sekarang definisi teknologi pendidikan telah berkembang lima kali. Pengembangan definisi pertama dilakukan oleh the Technological Development Project dari The National Education Association. Pada tahun 1963 disahkan definisi yang pertama sebagai berikut :
Komunikasi audiovisual yalah cabang teori dan praktek pendidikan, khususnya yang berkepentingan dengan rancangan dan pemanfaatan pesan yang mengendalikan proses belajar. Kegiatan ini meliputi perencanaan, produksi, seleksi, pengelolaan dan pema
nfaatan komponen-komponen sistem dan seluruh sistem instruksional. Tujuan praktisnya yaitu efisiensi pemanfaatan setiap metoda dan media komunikasi yang dapat menyumbang pengem-bangan potensi si-belajar secara penuh. Team perumus definisi ini dipimpin oleh Donald P. Ely – gurubesar di Syracuse University (saya sangat bersyukur karena Prof.Ely adalah penasehat akademik saya sewaktu saya kuliah di Syracuse University pada tahun 1961 – 1963). Program studi keahlian pada waktu itu disebut Audiovisual Communication Department. Definisi ini merupakan suatu perubahan penting dalam paradigma atau pola berpikir dalam teknologi pendidikan, yaitu dari penekanan pada bahan audiovisual sebagai alat bantu yang memberikan pengalaman konkrit, ke arah penekanan pada proses komunikasi untuk keperluan belajar, dan pemanfaatan sistem instruksional yang lengkap, dan pengembanagn potensi pemelajar secara optimal. Definisi ini juga memicu perubahan nama dari Department of Audio Visual Instruction (DAVI) menjadi the Association for Educational Communication and Technology (AECT). Dengan berubahnya kerangka teori secara menyeluruh, definisi ini beserta teori serta model yang mendukungnya, telah menghasilkan konsep baru teknologi pendidikan yang penting artinya bagi definisi yang berlaku sekarang. Orientasi bidang ini yang semula terietak pada “benda, indera, dan ujud konkrit”, digantikan dengan konsep proses. Menurut Donald P. Ely. konsep proses menentukan saling hubungan antara peristiwa sebagai sesuatu yang dinamik dan berkelanjutan. Semua unsur dalam proses saling berinteraksi dan saling mempengaruhi. Oleh karena itu komunikasi audiovisual telah mensintesiskan konsep-konsep komunikasi,  sistem, unsur-unsur atau komponen sistem dan rancangan sistem. Model komunikasi audiovisual ini menekankan bahwa si-belajar merupakan bagian integral dari proses teknologi pendidikan, dan dengan membawa konsep dari teori belajar ke dalam model komunikasi unsur yang berupa respons dari si-belajar serta evaluasi dari respons tersebut. Model ini mengidentifikasikan dan mendefinisikan komponen-komponen khusus, dan tidak sekedar menyebutkan adanya komponen itu dalam sistem instruksional. Menurut Ely, komponen-komponen khusus itu adalah :
•Pesan-pesan, yalah informasi yang ditransmisikan – isi dan artinya
•Instrumentasi – media, menunjukkan sistem transmisi (bahan – dan peralatan yang    tersedia untuk menyampaikan pesan) tertentu.
•Orang, menunjukkan personal yang di perlukan untuk mengawasi atau  membantu transmisi informasi atau presentasi.
•Metoda adalah spesifikasi dan tehnik yang diperlukan untuk presentasi yang efektif
•Lingkungan menunjukkan batasan atau pensyaratan dari kondisi tertentu dalam situasi  instruksional. Meskipun definisi ini menggambarkan suatu perubahan paradigma yang penting bagi teknologi pendidikan, dan mensintesiskan bagian terbesar dari konsep-konsep yang berasal dari orientasi sebelumnya, serta memperkenalkan banyak konsep baru di bidang itu, namun bukan tanpa kelemahan. Kelemahan yang paling nyata terletak pada penggunaan nama untuk bidang itu yang tidak konsisten. Definisi memakai istilah
“audiovisual communications”, “audio visual”, “educational communications”, dan “instructional technology” silih berganti. Ini menyebabkan timbulnya keragu-raguan akan nama yang sesungguhnya dari bidang yang bersangkutan. Definisi Komunikasi Audiovisual ini kemudian berkembang dengan menggunakan acuan Pendekatan Sistem dan Pengembangan Instruksional. Usah kedua untuk mendefinisikan teknologi pendidikan dilakukan oleh the Commission on Instructional Technology yang dipimpin oleh Sidney Tickton pada tahun 1970. Definisi teknologi instruksional yang dirumuskan adalah : Teknologi Instruksional adalah suatu cara yang sistematik untuk merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi keseluruhan proses belajar mengajar dalam rangka mencapai tujuan khusus komunikasi dan belajar pada manusia, serta dengan mempergunakan kombinasi sumber belajar insani dan non-insani, agar lerjadi pembelajaran yang lebih efektif.
Meskipun laporan yang disusun oleh Komisi tersebut di atas dikritik secara luas, namun laporan itu mengandung banyak konsep yang serasi dengan definisi yang berkembang kemudian. Yaitu diantaranya :
• Ditekankannya bahwa teknologi pendidi kan sebagai proses, bukannya sebagai media atau peralatan; dengan demikian konsep dari teori komunikasi dan pembelajaran terprogram memperoleh dukungan.
• Ditegaskannya bahwa teknologi pendidikan menggunakan konsep dan pendekatan sistem dalam pembelajaran, dan hal ini berarti lebih mementingkan proses daripada produk. Konsep itu menuntut adanya dampak “sinergistik” yaitu adanya nilai tambah yang timbul sebagai akibat penggabungan segala fungsi dan sumber ke dalam proses yang sistematik.
• Dipandangnya teknologi pendidikan sebagai pemanfaatan sumber-sumber manusiawi dan non-manusiawi. Dengan demikian ditegaskan bahwa orang merupakan bagian dalam teknologi pendidikan.
•Dianggapnya produk teknologi pendidikan sebagai sumber-sumber yang dapat digunakan untuk memperbaiki pengajaran. Laporan ini yang pertama kali menggunakan istilah “sumber belajar” untuk menunjukkan produk teknologi pendidikan.
•Ditunjukkannya bahwa teknologi pendidikan berlandaskan pada teori belajar dan komunikasi. Definisi kedua ini belum dianggap lengkap sehingga pada tahun 1972 Komisi Definisi dan Terminologi AECT mengeluarkan definisi baru yang ketiga. Teknologi pendidikan adalah suatu bidang yang berkepentingan dengan memfasilitasi belajar pada manusia, melalui usaha sistematik dalami dentifikasi, pengembangan, pengorganisasian, dan peman-faatan berbagai macam sumber belajar serta dengan pengelolaan atas keseluruhan proses tersebut Definisi ketiga ini menunjukkan hal-hal baru/berbeda seperti : teknologi pendidikan sebagai suatu bidang ; proses memfasilitasi belajar dan bukan kendali belajar; dan penggunaan nama/istilah teknologi pendidikan. Namun karena dianggap tidak memberikan ketetapan tentang teori dan profesi, maka dilakukan usaha perbaikan selanjutnya. Pada tahun 1975 AECT membentuk Komisi Defnisi dan Terminologi yang dipimpin oleh Dr. Kenneth H. Silber dengan anggota sebanyak 26 orang. Laporan Komisi ini diterbitkan oleh AECT “The Definition of Educatinal Technology” pada tahun 1977. (Terjemahan dalam bahasa Indonesia diterbitkan pada tahun 1986).Definisi tahun 1977 yang merupakan definisi keempat, meliputi 16 bagian yang diharapkan dipahami sebagai suatu keseluruhan yang saling berkaaitan, sebab satu bagian saja tidak akan dapat memberikan penjelasan yang memadai. Definisi tersebut sbb.:
Teknologi pendidikan adalah proses yang kompleks dan terpadu yang melibatkan orang, prosedur, idee, peralatan, dan organisasi untuk menganalisis masalah, mencarai jalan pemecahan, melaksanakan, mengevaluasi, dan mengelola pemecahan maslah yang menyangkut semua aspek belajar manusia. Pemecahan masalah terjelma dalam bentuk sumber belajar yang dirancang, dipilih dan atau digunakan untuk keperluan belajar, dan yang terdiri dari pesan, orang, bahan, perlatan, teknik, dan latar (lingkungan). Proses analisis masalah merupakan fungsi pengembangan pendidikan dalam bentuk riset/teori, desain, produksi, evaluasi-seleksi, logistik, pemanfaatan, dan penyebarluasan. Proses pengarahan dan koorinasi merupakan fungsi pengelolaan pendidikan yang meliputi pengelolaan organisasi dan personil. Beberapa dari ke enambelas bagian tersebut adalah :
•Istilah “teknologi pendidikan” dibedakan dengan “teknologi instruksional” yang terakhir merupakan bagian dari yang pertama. Teknologi instruksional berkepentingan dengan kegiatan belajar yang bertujuan dan terkendali. Proses pemecahan masalah merupakan komponen sistem instruksional.
•Teknologi pendidikan dapat membentuk teori karena adanya gejala khusus yang menjadi perhatian, orientasim sistematika, identifikasi kesenjangan, yang melahirkan startegi baru melalui riset, prediksi dan prinsip
•Teknologi pendidikan memiliki teknik intelktual yang unik dan tidak digunakan pada bidang lain, yaitu pendekatan yang sistematik yang menimbulkan efek sinergistik
•Teknologi pendidikan merupakan suatu profesi dengan adanya pendidikan khusus, organisasi profesi dan aktivitas-aktivitas yang dilakukanannya.
•Teknologi pendidikan beroperasi dalam konteks masyarakat yang lebih luas, dengan sikap kemandirian dan kebebasan intelektual, meniadakan hal-hal yang bersifat klise, dan berpihak pada kepentingan manusia dalam memenuhi tujuan hidup.
•Teknologi pendidikan bergerak dalam keseluruhan bidang pendidikan, dan mengusahakan terciptanya keseimbangan dan hubungan kerjasama yang selaras dengan berbagai profesi pendidikan lain. Definisi resmi AECT yang keempat ini masih dianggap mempunyai kelemahan, diantaranya adalah : tidak adanya penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan proses kompleks dan terpadu; keraguan dalam merumuskan definisi hingga harus dinyatakannya dalam 16 bagian; penggunaan istilah pendidikan yang meluas sehingga dapat merambah obyek formal ilmu pendidikan yaitu “pribadi”; penjelasan tentang pendidikan yang lebih banyak mengarah pada proses pendidikan di sekolah; dan keraguan tentang status keilmuannya yang menyatakan “dapat membentuk teori”; dan tidak adanya ketentuan bahwa semua komponen harus dikelola dan diawasi agar sistem itu beroperasi secara efektif dan efisien. Hal-hal ini semua mempersulit pengakuan dan komunikasi dengan bidang kajian atau disiplin keilmuan lain. AECT membentuk suatu komisi Definisi dan Terminologi pada tahun 1990 yang dipimpin oleh Barbara B. Seels, dengan 21 orang anggota. Setelah bekerja selama tiga
tahun, komisi ini merumuskan definisi dan terminologi baru yang merupakan definisi kempat. Laporan komisi diterbitkan dalam buku “Instrucksional Technology. The Definition and Domains of the Field” (1994), dengan penulis akhir Barbara B. Seels dan Rita C, Richey. Terjemahan buku ini ke dalam bahasa Indonesia diterbitkan oleh Ikatan profesi Teknologi Pendidikan Indonesia (IPTPI) sebagai Seri Pustaka Teknologi Pendidikan 12 pada tahun 2000. Definisi kelima tahun 1994 adalah sbb.:
Teknologi Pembelajaran adalah teori dan praktek dalam desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, serta penilaian proses dan sumber untuk belajar. Komponen dalam definisi adalah :
•Teori dan praktek;
•Kawasan desain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan, dan penilaian;
•Proses dan sumber;
•Untuk keperluan belajar Setiap kawasan memberikan kontribusi kepada pengembangan
teori dan praktek yang menjadi landasan keilmuan, dan sebaliknya teori dan praktek juga dijadikan pegangan dalam pengembangan kawasan. Tiap kawasan tersebut berdiri sendiri,
meskipun saling berkaitan sebagai sesuatu kegiatan yang sistematik.
Untuk sementara ini pengembangan definisi dan terminologi sudah danggap cukup karena telah menunjukkan adanya teori yang digunakan dan dikembangkan, sebagai prasyarat untuk setiap disiplin keilmuan, dan perlunya profesi dalam mempraktekkan proses pada setiap kawasan; dan focus kepada kepentingan setiap orang untuk belajar. Arah pertumbuhan teknologi instruksional menurut Finn sesuai dengan teoriRostow tentang lima tahap pertumbuhan dari masyarakat tradisional ke kebudayaan
teknologi tinggi, yaitu :
1.  masyarakat tradisional – i1mu dan teknologi tidak tersedia, atau tidak secara teratur dan sistematik diterapkan;
2. pra-kondisi untuk tinggal landas – ada perubahan psikolo-is dan politis di masyarakat,yang menyebabkan orang dan lembaga bersedia menerima teknologi, dan pada saat mana telah terbentuk modal dasar masyarakat yang diperlukan;
3. tinggal landas – massa kritis prakondisi tercapai, dan beberapa inovasi teknologi yang berlangsung bertindak sebagai stimulus untuk berpikir teknologis;
4. beranjak dewasa – dipergunakannya proses teknologi yang lebih canggih dan rumit, sementara itu investasi masyarakat dalam piranti (tools) sebanyak 10 –20 %; dan
5. konsumsi massa yang tinggi – masyarakat menerapkan proses dan sumber teknologi dimana saja untuk setiap kesempatan.
Kembali pada Segitiga Acuan dari Ogden dan Ricard yang telah ditampilkan di muka, dapatlah disimpulkan bahwa :
1.   Istilah yang digunakan Teknologi Pendidikan atau Teknologi Pembelajaran
2. Gagasannya adalah agar setiap orang mampu mengembangkan diri secara optimal dengan memperoleh kesempatan belajar melalui berbagai proses dan sumber
3.  Dengan rujukan :
•  Proses yang sistemik dan sistematik
•  Aneka sumber yang dikembangkan dan/atau digunakan untuk belajar
•  Bertolak dari bebagai teori yang relevan dan kenyataan empirik
•  Adanya nilai tambah dalam mencapai tujuan kegiatan
•  Bersifat inovatif karena harus menyesuaikan dengan perkembangan pengetahuan dan         kebutuhan

Perkembangan di Indonesia

Perkembangan teknologi pendidikan di Indonesia boleh dikatakan mengikuti perkembangan yang ada di Amerika Serikat. Sepeti halnya yang terjadi di AS, perkembangan tersebut dapat dikatakan dimulai dengan diguna-kannya media atau alat peraga untuk menunjang kegiatan pengajaran. Bedanya adalah kalau di Amerika dengan demokrasi liberalnya memungkinkan tumbuh-nya pemikiran dan tindakan oleh masyarakat, maka di Indonesia dengan demokrasi terpimpinnya mengharuskan restu pemerintah untuk mengembang-kan pemikiran dan kegiatan.
Sejak awal kemerdekaan Indonesia, penggunaan media komunikasi sudah merupakan suatu alternatif pilihan. Pada saat itu jumlah sekolah masih sangat terbatas, dan di samping itu banyak pelajar yang terpaksa meninggalkan bangku sekolah karena mereka itu memilih unruk mengikuti perjuangan fisik. Sekolah yang adapun kurang befungsi sebagaimana yang diharapkan.
Namun adanya program siaran radio pendidikan saat itu terutama dianggap sebagai tindakan darurat untuk mengatasi masalah yang ada. Pada tahun 1951 diselenggarakan ” school broadcasting” sebagai suatu usaha periritisan meliputi daerah Jakarta, Bandung, Bogor dan Cirebon. Pada saat itu dibentuk Panitia Penyelenggara school broadcasting. yang diketuai oleh Sadarjoen Siswomartojo (Kepala Djawatan Pendidikan Masjarakat Ke-menterian PPK), dengan sekretaris dari RRI, dan anggota yang mewakili AD, AURI, ALRI, Kepala Jawatan Pengajaran, Inspektur Jenderal Pengajaran, dan Kepala Bagian Penerangan
Kementerian PPK. Bertindak sebagai pelindung dan penasehat panitia ini adalah Commodore Soerjadarma (Kepala Staf AURI). Pada tahun 1955 didirikan BKTPG (Balai Kursus Tertulis Pendidikan Guru) diBandung; suatu lembaga yang bertugas menyelenggarakan kursus tertulis bagi calon guru SD guna menyongsong program perl
uasan kesem-patan belajar yang lebih berkualitas. Lembaga ini telah berkembang fungsinya, dan setelah mengalami masa pasang surut, sekarang ini menjadi Pusat Peng-embangan Penataran Guru Tertulis. Pada saat yang hampir bersamaan (tidak diper oleh data yang pasti) telah didirikan TAC Teaching Aid Center = Balai Alat Peraga Pendidikan) di Bandung dengan cabang antara lain di Malang. Lembaga ini bertugas memproduksi dan mengkoordinasikan ketersediaan alat peraga pengajaran untuk sekolah-sekolah. Suatu kebijakan berskala nasional sebenarnya sudah ditetapkan dalam REPELITA I. Dalam rumusan program pembangunan pendidikan ditetapkan untuk “…digunakan media massa : radio dan televisi untuk peningkatan mutu sekolah dasar…”(RI,1970:361). Rumusan kebijakan itu memang berorientasi- kan pada media, namun tindakan yang dilakukan kemudian mengarah pada pengertian sistem karena diperlukannya mengkaji semua kmponen yang berkaitan, termasuk sumberdaya manusianya. Pada tahun 1972, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan kebijakan untuk mengembangkan siaran pendidikan secara bertahap melalui perintisan. Perintisan kemudian dilaksanakan di tiga daerah, yaitu DKI Jakarta, D.I.Yogyakarta, dan Jawa Tengah. Perintisan tersebut setelah dinilai pada tahun 1974, diputuskan untuk digunakan bagi kegiatan penatarn guru di 11 propinsi yang jumlah gurunya banyak dan yang kondisi geografisnya menyulitkan transportasi dan komunikasi. Pengembangan media massa untuk pendidikan selanjutnya, ternyata kurang mendapat perhatian kebijakan dalam pembangunan pendidikan lebih lanjut. Pada tahun 1974 Presiden Suharto sebenarnya telah mencanangkan penggunaan satelit komunikasi domestik untuk penyebaran pendidikan. Tetapi pernyataan kebijakan
Presiden ini tidak mendapat tanggapan konkrit. Yang tumbuh dan berkembang hingga sekarang adalah pendidikan tenaga ahli teknologi pendidikan dan pengembangan
sistem serta strategi pembelajaran yang bersifat inovatif. Pada tahun 1973 dalam rangka kerjasama INNOTECH mulai diujicoba suatu sistem instruksional non-tradisional yang dikenal sebagai SD PAMONG. (Pendidikan Anak oleh Masyarakat, Orangttua dan Guru). Dalam sistem ini dikembangkan dan digunakan bahan belajar berupa modul cetakan untuk keperuan belajar mandiri, belajar kelompok dengan tutorial sebaya, dan pendayagunaan narasumber yang ada di lingkungan. Rapat koordinasi teras Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan meng-gariskan kebijakan pengembangan teknologi komunikasi untuk pendidikan dan kebudayaan pada tahun 1975 sebagai berikut :
•Kegiatan harus bertolak dari kebijakan pendidikan yang sudah ada;
•Rencana kegiatan dikembangkan dari hasil analisis kebutuhan;
•Diprioritaskan program pemerataan mutu pendidikan;
•Dalam mengadakan pembaharuan di sekolah harus dimulai dari titik pangkal
strategis yaitu guru;
•Media yang dikembangkan dan digunakan harus telah terbukri efektif;
•Dibentuknya unit kerja yang akan menangani dan memanfaatkan teknologi komunikasi untuk pendidikan dan kebudayaan;
•Pengembangan tenaga melalui latihan dalam berbagai aspek teknologi pendidikan;
•Pengembangan program teknologi pendidikan pada perguruan tinggi; Pendidikan keahlian teknologi pendidikan dimulai pada tahun 1976 pada jenjang S1 dan tahun 1978 pada jenjang S2 dan S3. Mayoritas dosen yang mengajar didatangkan dari A.S. melalui bantuan teknis dari USAID. Kurikulum dan tenaga dosennya dikoordinasikan oleh Syracuse University dalam suatu konsorsium UCIDT (University Consotium of Instructional Development and Technology). Para dosen tersebut tentu saja membawa konsep-konsep yang berkembang di AS. Kecuali itu sekitar 80 tenaga dosen Indonesia dalam kurun waktu lima tahun, yang dikirim ke luar Negeri (AS, Inggris, Australia) sebagai inti untuk pengembangan program teknologi pendidikan lebih lanjut. Perkembangan konsep teknologi pendidikan tersebut diawali dengan adanya alat peraga yang digunakan oleh tiap-tiap guru secara individual dalam rangka kegiatan pengajarannya. Kemudian disediakannya berbagai media pengajaran oleh lembaga yang khusus mendapat tugas pembuatan dan penyediaan media (seperti yang dilakukan oleh TAC). Para guru diharapk

an menggunakan media yang tersedia sebagai bagian integral dari program belajar– mengajar. Perkembangan kemudian masih terbatas dalam lingkup pendidikan sekolah, namun teknologi pendidikan tidak hanya berupa media, tetapi jua gergabagi startegi yang diperlukan agar siswa belajar aktif. Namun dengan pertimbangan bahwa belajar itu terjadi dimana saja, kapan saja, dan oleh siapa dan apa saja, maka konsep pendidikan di sekolah harus diperluas, hingga lingkungan luar sekolah, termasuk di lembaga masyarakat, lembaga pelatihan, lembaga kerja, lembaga ibadah, bahkan oleh pribadi. Sedang kegiatannya dapat berupa teknologi pembelajaran atau teknologi kinerja. Perkembangan penerapan konsep teknologi pendidikan di Indonesia dapat digambarkan sebagai berikut :screenshot_6

Konsep-konsep yang telah ditumbuhkan melalui program pendidikan dan penelitian, kemudian di adaptasi dan disesuaikan dengan kondisi lingkungan. Meskipun demikian gagasan dan rujukan yang terkandung dalam istilah teknologi pendidikan atau teknologi pembelajaran tetap dipertahankan, yaitu : agar setiap orang mampu mengembangkan diri secara optimal dengan memperoleh kesempatan belajar melalui berbagai proses dan sumber, dengan rujukan : Proses yang sistemik dan sistematik; Aneka sumber yang dikembang-kan dan/atau digunakan untuk belajar; Bertolak dari bebagai teori yang relevan dan kenyataan empirik ; Adanya nilai tambah dalam mencapai tujuan kegiatan; Bersifat inovatif karena harus menyesuaikan dengan perkembangan pengetahuan dan kebutuhan; dan ditambah dengan Pendekatan isomeristik yang menggabungkan berbagai pemikiran atau disiplin keilmuan. Perkembangan terminologi dalam bidang teknologi pendidikan bahkan telah menjadi bagian integral dalam sistem pendidikan. Istilah “pembelajaran” yang berfokus pada kondisi dan kepentingan pemelajar (learner centered) untuk menggantikan istilah “pengajaran” yang teacher centered, mulai diperkenalkan sejak tahun 1973, telah dipakai secara meluas, bahkan telah diakomodasikan dan bahkan dikuatkan dalam perundangan (UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003). Demikian pula istilah “sumber belajar”, dan berbagai macam strategi pembelajaran. Sistem dan strategi pembelajaran yang pada hakekatnya merupakan penerapan konsep universal dalam konteks Indonesia telah juga berkembang. Beberapa bentuk sistem dan strategi pembelajaran yang berkembang adalah :
•Sistem SMP Terbuka dan Universitas Terbuka yang telah berkembang ke seluruh pelosok, dan merupakan bagian integral sistem pendidikan nasional;
•Berkembangnya berbagai strategi belajar dan pembelajaran yang inovatif seperti belajar berbasis masalah, belajar berbasis aneka sumber, pembelajaran elaboratif, pembelajaran kooperatif, pembelajaran berbasis komputer, pembelajaran melalui televisi siaran (tvedukasi) dan lain-lain. Jelaslah bahwa konsep teknologi pendidikan telah tumbuh dan berkembang di Indonesia. Namun ibarat tanaman yang telah tumbuh dan berkembang, tetapi tidak dirawat, dipupuk dan diremajakan, maka tanaman itu akan dapat mati, demikian pula konsep. Terserah kepada mereka yang merasa dirinya sebagai teknolog pendidikan/pembelajaran untuk mempunyai komitmen dalam merawat, memupuk dan meremajakan konsep dan penerapannya.

Konsep dan Teori Kurikulum

kurikulumKurikulum dan pendidikan merupakan dua konsep yang harus dipahami terlebih dahulu sebelum membahas mengenai pengembangan kurikulum. Sebab, dengan pemahaman yang jelas atas kedua konsep tersebut diharapkan para pengelola pendidikan, terutama pelaksana kurikulum, mampu melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Kurikulum dan Pendidikan bagaikan dua keping uang, antara yang satu dengan yang lainnya saling berhubungan dan tak bisa terpisahkan. Secara kodrati, manusia sejak lahir telah mempunyai potensi dasar (fit}rah)1 yang harus ditumbuhkembangkan agar fungsional bagi kehidupannya di kemudian hari. Untuk itu, aktualisasi terhadap potensi tersebut dapat dilakukan usaha-usaha yang disengaja dan secara sadar agar mencapai pertumbuhan dan perkembangan secara optimal. Pendidikan, sebagai usaha dan kegiatan manusia dewasa terhadap manusia yang belum dewasa, bertujuan untuk menggali potensi-potensi tersebut agar menjadi aktual dan dapat dikembangkan. Dengan begitu, pendidikan adalah alat untuk memberikan rangsangan agar potensi manusia tersebut berkembang sesuai dengan apa yang diharapkan. Dengan berkembangnya potensi-potensi itulah manusia akan menjadi manusia dalam arti yang sebenaruya. Di sinilah, pendidikan sering diartikan sebagai upaya manusia untuk memanusiakan manusia. Sehingga mampu memenuhi tugasnya sebagai manusia dan menjadi warga negara yang berarti bagi suatu negara dan bangsa. Pendidikan dapat terjadi melalui interaksi manusia dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik maupun sosial. Proses interaksi tersebut akan berlangsung dan dialami manusia selama hidupnya. Interaksi manusia dalam lingkungan sosialnya menempatkan manusia sebagai mahluk sosial. Yakni, makhluk yang saling memerlukan, saling bergantung, dan saling membutuhkan satu sama lain, termasuk ketergantungan dalam hal pendidikan. Di samping itu, manusia sebagai makhluk sosial terikat dengan sistem sosial yang lebih luas. Dalam sistem itu didukung oleh nilai-nilai dan norma-norma yang dimiliki dan diyakini oleh masyarakat yang bersangkutan. Keterikatan itu menempatkan manusia menyatu dengan nilai-nilai yang sifatnya universal. Karena itu, manusia dapat dikatakan sebagai makhluk yang mempunyai kesadaran moral dan keagamaan. Sekolah, sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional, tidak dapat dipisahkan dari sistem kehidupan sosial yang lebih luas. Artinya, sekolah itu harus mampu mendukung terhadap kehidupan masyarakat Indonesia yang lebih baik. Dalam pendidikan sekolah, pelaksanaan pendidikan diatur secara bertahap atau mempunyai tingkatan tertentu. Dalam sistem pendidikan nasional, jenjang pendidikan dibagi menjadi pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi. Masing-masing tingkatan itu mempunyai tujuan yang dikenal dengan tujuan institusional atau tujuan kelembagaan, yakni tujuan yang harus dicapai oleh setiap jenjang lembaga pendidikan sekolah. Semua tujuan institusi tersebut merupakan penunjang terhadap tercapainya tujuan pendidikan nasional.

KONSEP KURIKULUM

Konsep kurikulum berkembang sejalan dengan perkembangan teori dan praktik pendidikan, juga bervariasi sesuai dengan aliran atau teori pendidikan yang dianutnya. Yang perlu mendapatkan penjelasan dalam teori kurikulum adalah konsep kurikulum. Ada tiga konsep tentang kurikulum, kurikulum sebagai substansi, sebagai sistem, dan sebagai bidang studi. Konsep pertama, kurikulum sebagai suatu substansi. Kurikulum dipandang sebagai suatu rencana kegiatan belajar bagi murid-murid di sekolah, atau sebagai suatu perangkat tujuan yang ingin dicapai. Suatu kurikulum juga dapat menunjuk kepada suatu dokumen yang berisi rumusan tentang tujuan, bahan ajar, kegiatan belajar-mengajar, jadwal, dan evaluasi. Suatu kurikulum juga dapat digambarkan sebagai dokumen tertulis sebagai hasil persetujuan bersama antara para penyusun kurikulum dan pemegang kebijaksanaan pendidikan dengan masyarakat. Suatu kurikulum juga dapat mencakup lingkup tertentu, suatu sekolah, suatu kabupaten, propinsi, ataupun seluruh negara. Konsep kedua, adalah kurikulum sebagai suatu sistem, yaitu sistem kurikulum. Sistem kurikulum merupakan bagian dari sistem persekolahan, sistem pendidikan, bahkan sistem masyarakat. Suatu sistem kurikulum mencakup struktur personalia, dan prosedur kerja bagaimana  cara menyusun suatu kurikulum, melaksanakan, mengevaluasi, dan menyempurnakannya. Hasil dari suatu sistem kurikulum adalah tersusunnya suatu kurikulum, dan fungsi dari sistem kurikulum adalah bagaimana memelihara kurikulum agar tetap danamis. Konsep ketiga, kurikulum sebagai suatu bidang studi yaitu bidang studi kurikulum. Ini merupakan bidang kajian para ahli kurikulum dan ahli pendidikan dan pengajaran. Tujuan kurikulum sebagai bidang studi adalah mengembangkan ilmu tentang kurikulum dan sistem kurikulum. Mereka yang mendalami bidang kurikulum, mempelajari konsep-konsep dasar tentang kurikulum. Melalui studi kepustakaan dan berbagai kegiatan penelitian dan percobaan, mereka menemukan hal-hal baru yang dapat memperkaya dan memperkuat bidang studi kurikulum. Menurut pandangan lama, kurikulum merupakan kumpulan mata pelajaran yang harus disampaikan guru atau dipelajari oleh siswa.6 Anggapan ini telah ada sejak zaman Yunani Kuno. Dalam lingkungan atau hubungan tertentu pandangan ini masih dipakai sampai sekarang, yaitu kurikulum sebagai “… a racecourse of subject matters to be mastered”. Ada pendapat mengatakan bahwa kurikulum: “a course, as a specific fixed course of study, as in school or college, as one leadang to a degree”.8 Banyak orang tua bahkan juga guru-guru, kalau ditanya tentang kurikulum akan memberikan jawaban sekitar bidang studi atau mata pelajaran. Lebih khusus mungkin kurikulum diartikan hanya sebagai isi pelajaran. Dalam hal ini al-Shayban> i > sebagaimana dikutip Hasan Langgulung mengatakan: Kurikulum adalah sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olahraga, dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid-murid di dalam dan di luar sekolah dengan maksud menolongnya untuk berkembang menyeluruh dalam segala segi dan merubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan. Mauritz Johnson mengajukan keberatan terhadap konsep kurikulum yang sangat luas. Menurut Johnson, pengalaman hanya akan muncul apabila terjadi interaksi antara siswa dengan lingkungannya. Interaksi seperti itu bukan kurikulum, tetapi pengajaran. Kurikulum hanya menggambarkan atau mengantisipasi hasil dari pengajaran. Johnson membedakan dengan tegas antara kurikulum dengan pengajaran. Semua yang berkenaan dengan perencanaan dan pelaksanaan, seperti perencanaan isi, kegiatan belajar mengajar, evaluasi, termasuk pengajaran. Sedangkan kurikulum hanya berkenaan dengan hasil-hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh siswa. Menurut Johnson kurikulum adalah … a structured series of intended learning outcome. Terlepas dari pro dan kontra terhadap pendapat Mauritz Johnson, beberapa ahli memandang kurikulum sebagai rencana pendidikan atau pengajaran. Salah seorang di antara mereka adalah Mac Donald. Menurut dia, sistem persekolahan terbentuk atas empat subsistem, yaitu; mengajar,
belajar, pembelajaran, dan kurikulum.11 Mengajar (teaching) merupakan kegiatan atau perlakuan profesional yang diberikan oleh guru. Belajar (learning) merupakan kegiatan atau upaya yang dilakukan siswa sebagai respons terhadap kegiatan mengajar yang diberikan oleh guru. Keseluruhan pertautan kegiatan yang memungkinkan dan berkenaan dengan terjadinya interaksi belajar-mengajar disebut pembelajaran (instruction).
Kurikulum (curriculum) merupakan suatu rencana yang memberi pedoman atau pegangan dalam proses kegiatan belajar-mengajar. Kurikulum juga sering dibedakan antara kurikulum sebagai rencana (curriculum plan) dengan kurikulum yang fungsional (functioning curriculum). Menurut Beauchamp “A curriculum is a written document which may contain many ingredients, but basically it is a plan for the education of pupils during their enrollment in given school”. Beauchamp lebih memberikan tekanan bahwa kurikulum adalah suatu rencana pendidikan atau pengajaran. Pelaksanaan rencana itu sudah masuk pengajaran. Selanjutnya, Zais menjelaskan bahwa kebaikan suatu kurikulum tidak dapat dinilai dari dokumen tertulisnya saja, melainkan harus dinilai dalam proses pelaksanaan fungsinya di dalam kelas. Kurikulum bukan hanya merupakan rencana tertulis bagi pengajaran, melainkan sesuatu yang fungsional yang beroperasi dalam kelas, yang memberi pedoman dan mengatur lingkungan dan kegiatan yang berlangsung di dalam kelas. Rencana tertulis merupakan dokumen kurikulum (curriculum document or, inert curriculum), sedangkan kurikulum yang dioperasikan di kelas merupakan kurikulum fungsional (functioning, live or operative curriculum). Hilda Taba mempunyai pendapat yang berbeda dengan pendapat-pendapat itu. Perbedaan antara kurikulum dan pengajaran menurut dia bukan terletak pada implementasinya, tetapi pada keluasan cakupannya. Kurikulum berkenaan dengan cakupan tujuan isi dan metode yang lebih luas atau lebih umum, sedangkan yang lebih sempit, lebih khusus menjadi tugas pengajaran.
Menurut Taba keduanya membentuk satu kontinum. Kurikulum terletak pada ujung tujuan umum atau tujuan jangka panjang, sedangkan pengajaran pada ujung lainnya yaitu yang lebih khusus atau tujuan dekat.

TEORI KURIKULUM

Menurut Bobbit, inti teori kurikulum itu sederhana, yaitu kehidupan manusia.15 Kehidupan manusia meskipun berbeda-beda pada dasarnya sama, terbentuk oleh sejumah kecakapan pekerjaan. Pendidikan berupaya mempersiapkan kecakapan-kecakapan tersebut dengan teliti dan sempurna. Kecakapan-kecakapan yang harus dikuasai untuk dapat terjun dalam kehidupan sangat bermacam-macam, bergantung pada tingkatannya maupun jenis lingkungan. Setiap tingkatan dan lingkungan kehidupan menuntut penguasaan pengetahuan, keterampilan, sikap, kebiasaan, apresiasi tertentu. Hal-hal itu merupakan tujuan kurikulum. Untuk mencapai hal-hal itu ada serentetan pengalaman yang harus dikuasai anak. Seluruh tujuan beserta pengalaman-pengalaman tersebut itulah yang menjadi bahan kajian teori kurikulum.

Beauchamp merangkumkan perkembangan teori kurikulum antara tahun 1960 sampai
dengan 1965. la mengidentifikasi adanya enam komponen kurikulum sebagai bidang studi,
yaitu: landasan kurikulum, isi kurikulum, desain kurikulum, rekayasa kurikulum, evaluasi dan penelitian, dan pengembangan teori.

Sukmadanata mengemukakan tiga unsur dasar kurikulum, yaitu aktor, artifak, dan pelaksanaan. Aktor adalah orang-orang yang terlibat dalam pelaksanaan kurikulum. Artifak adalah isi dan rancangan kurikulum. Pelaksanaan adalah proses interaksi antara aktor yang melibatkan artifak. Studi kurikulum menurut Frymier meliputi tiga langkah; perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.

MODEL KONSEP KURIKULUM

  1. Konsep Kurikulum Akademik
    Kurikulum akademis ini merupakan model yang pertama dan tertua, sejak sekolah berdiri kurikulumnya seperti ini, bahkan sampai sekarang walaupun telah berkembang tipe-tipe lain, umumnya sekolah tidak dapat melepaskan tipe ini. Karenya sangat praktis, mudah disusun dan mudah digabungkan dengan tipe-tipe lain.
  2. Kurikulum Humanistik
    Dalam pandangan humanisme, kurikulum adalah sesuatu yang dapat menunjang perkembangan anak dalam aspek kepribadiannya. Kurikulum dapat dilihat sebagai suatu proses yang mampu memenuhi kebutuhan individu untuk mencapai integrasi perkembangan dalam menuju aktualisasi (perwujudan) diri.
  3. Kurikulum Rekonstruksi Sosial
    Kurikulum Rekonstruksi Sosial ini lebih menekankan pada problem-problem yang dihadapi murid dalam kehidupan masyarakat. Konsepsi kurikulum ini mengemukakan bahwa pendidikan bukanlah merupakan upaya sendiri, melainkan merupakan kegiatan bersama, interaksi, dan kerja sama. Interaksi atan kerja sama dapat terjadi pada siswa dengan guru, siswa dengan siswa, siswa dengan orang di lingkungannya. Dengan kerja sama semacam ini, para siswa berusaha memecahkan problem-problem yang dihadapi dalam masyarakat agar menjadi masyarakat yang lebih baik. Pendidikan, menurut konsepsi kurikulum rekonstruksi sosial ini memiliki pengaruh, mengubah, dan memberi corak baru kepada masyarakat dan kebudayaan
  4. Kurikulum Teknologi
    Dalam pandangan teknologi, kurikulum merupakan proses teknologi untuk menghasilkan tuntutan kebutuhan-kebutuhan tenaga yang mampu membuat keputusan. Penerapan teknologi dalam pendidikan, khususnya kurikulum meliputi dua bentuk, yakni; bentuk perangkat lunak (software) dan perangkat keras (handware). Penerapan teknologi perangkat keras dalam pendidikan dikenal sebagai teknologi alat (tulls technology), sedangkan penerapan teknologi perangkat lunak disebut juga teknologi sistem (system technology).