Menyamai Benih Teknologi Pendidikan

8e5cb5a25d0e9917fccfdb3c5a253413PONTENSI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Teknologi Pendidikan dapat didefinisikan dengan berbagai macam formulasi. tidak ada satupun formulasi yang paling benar, karena berbagai formulasi dibawah ini saling mengisi.
1. Teknologi pendidikan merupakan suatu proses yang komleks dan terintegrasi, meliputi manusia, alat dan sistem, termasuk diantaranya gagasan, prosudur, dan organisasi.
2. Teknologi pendidikan memakai pendekatan yang sistimatis dalam rangka menganalisis dan memecahkan persoalan proses belajar.
3. Teknologi pendidikan merupakan suatu biadang yang berkepentingan dengan pengembangan secara sistimatis berbagai macam sumber belajar, termasuk didalamnya pengelolaan dan penggunaan sumber tersebut.
4. Teknologi pendidikan merupakan suatu bidang profesi yang terbentuk dengan adanya usaha terorganisasikan dalam mengembangkan teori, melaksanakan penelitian, aplikasi praktis perluasan , serta peningkatan sumber belaja.
5. Teknologi pendidikan beroperasi dalam seluruh bidang pendidikan secara integratif, yaitu secara rasioanl berkembang dan berintegrasi dalam berbagai kegiatan pendidikan.

Pada umumnya, teknologi pendidikan dianggap mempunyai potensi untuk:
1. Meningkatkan produktivitas pendidikan, dengan jalan :
a. mempercepat tahap bealajar (rute of learning).
b. membantu guru untuk menggunakan waktunya secara baik.
c. mengurangi beban guru dalam menyajikan informasi, sehingga guru dapat lebih banyak membina dan mengembangkan kegairahan belajar anak.
2. Memberikan kemungkinan pendidikan yang sifatnya lebih individual, dengan jalan :
a. mengurangi kontrol guru yang kaku dan tradisonal.
b. memberikan kesempatan anak berkembang sesuai kemampuanya.
3. Memberikan dasar yang lebih ilmiah terhadap pengajaran, dengan jalan:
a. perencanaan program pengajaran yang lebih sistematis.
b. pengembangan bahan pengajaran yang dilandasi penelitian tentang prilaku.
4. Lebih memantapkan pengajaran, dengan jalan:
a. meningkatkan kapabilitas manusia dengan berbagai media komunikasi.
b. penyajian informasi dan data secara kongkrit.
5. Memungkinkan belajar secara seketika (immediacy of learning), karena dapat:
a. mengurangi jurang pemisah antara pelajaran di dalam dan di luar sekolah.
b. memberikan pengetahuan langsung.
6. Memungkinkan penyajian pendidikan lebih luas, terutama adanya media massa dengan jalan :
a. pemamfaatan bersama (secara lebih luas) tenaga atau kejadian yang langka.
b. penyajian informasi menembus batas geografis. (Ely, 1979)

PERKEMBANGAN KONSEP TEKNOLOGI PENDIDIKAN
Pengertian teknologi pendidikan tidak terlepas dari pengertian teknologi secara umum. Pengertian teknologi yang utama adalah proses yang meningkatkan nilai tambah. Proses tersebut menggunakan dan/atau menghasilkan suatu produk tertentu Produk yang digunakan dan/atau dihasilkan tidak terpisah dari produk lain yang telah ada, dan karena itu menjadi bagian integral dari suatu sistem. Jadi, dalam pengertian umum tentang teknologi, alat atau sarana baru yang khusus diperlukan tidak menjadi syarat mutlak harus ada, karena alat atau sarana itu telah ada sebelumnya.
Dalam bidang pendidikan atau pembelajaran, teknologi juga harus memenuhi ketiga syarat tersebut: proses, produk, dan sistem. Kecuali memenuhi syarat umum teknologi, teknologi pendidikan juga harus membuktikan dirinya sebagai suatu bidang kajian atau disiplin keilmuan yang berdiri sendiri. Perkembangan sebagai disiplin ilmu tersebut dilandasi oleh serangkaian dalil atau dasar yang dijadikan patokan pembenaran.Secara falsafi, dasar keilmuan itu meliputi ontologi atau rumusan tentang gejala pengamatan yang dibatasi pada suatu kelompok telaah khusus yang tidak tergarap oleh bidang telaah lain; epistemologi, yaitu usaha atau perinsip intelektual untuk memperoleh kebenaran dalam pokok telaah yang ditentukan; dan aksiologi atau nilai-nilai yang menentukan kegunaan dari pokok telaah yang ditentukan, yang mempersoalkan nilai moral (etika) dan nilai seni serta keindahan atau estetika. (Miarso, 1987)
Objek formal teknologi pendidikan adalah “BELAJAR” pada manusia, baik sebagai pribadi maupun yang tergabung dalam organisasi. Belajar itu tidak hanya berlangsung dalam lingkup persekolahan ataupun pelatihan. Belajar itu dimana saja dan oleh siapa saja, dengan cara dan sumber apa saja yang sesuai dengan kondisi dan keperluan.

Adapun gejala perlu mendapat perhatian, atau yang merupakan landasan ontologi dari objek tersebut, antara lain:
1. Adanya sejumlah besar orang yang belum terpenuhi kesempatan belajarnya, baik yang diperoleh melalui suatu lembaga khusus, maupun yang dapat diperoleh secara mandiri.
2. Adanya berbagai sumber baik telah tersedia maupun yang dapat direkayasa, tetapi belum dapat dimamaatkan untuk keperluan belajar.
3. Perlu adanya proses atau usaha khusus yang terarah dan terencana untuk menggarap sumber-sumber tersebut agar dapat terpenuhi hasrat belajar setiap orang dan organisasi
4. Perlu adanya keahlian dan pengelolaan atas kegiatan khusus dalam mengembangkan dan memamfaatkan sumber belajar tersebut secara efektif efesian dan selaras.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s